JAKARTA, iNewsBandungRaya.id - Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI Tubagus Ace Hasan Syadzily menegaskan, ancaman terhadap ketahanan nasional bukan hanya politik, ekonomi, dan keamanan, tetapi juga degradasi atau kerusakan lingkungan.
Pernyataan itu disampaikan Gubernur Lemhannas RI saat memberikan sambutan sekaligus membuka Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) Angkatan 69 Tahun 2026 di Lemhannas RI, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (13/1/2026).
P4N Angkatan 69 Tahun 2026 mengusung tema "Pemantapan Pimpinan Tingkat Nasional Guna Mendukung Asta Cita dalam Rangka Mewujudkan Indonesia Emas 2045".
Pendidikan ini berlangsung selama lima bulan dua minggu sejak 13 Januari hingga Selasa 14 Juli 2026.
Jumlah peserta P4N Angkatan 69 Tahun 2026 110 orang, terdiri atas kementerian 8 orang, lembaga negara 6, lembaga pemerintahan non-kementerian 8, pemerintahan daerah 1, non-kepemerintahan 5 orang, dan peserta dari negara sahabat 6 orang.
Negara yang mengutus peserta menimba ilmu di Lemhannas RI antara lain, Australia, India, Kamboja, Malaysia, dan Timor Leste.
TNI dan Polri juga menugaskan puluhan perwira untuk mengikuti P4N Angkatan 69 Lemhannas RI. Peserta dari TNI sebanyak 48 orang, terdiri atas TNI AD 25, AL 13, AU 10. Sedangkan dari Polri 28 orang.
Kang Ace, sapaan akrab Tubagus Ace Hasan Syadzily mengatakan, selamat dan bangga kepada peserta yang terpilih mengikuti P4N Lemhannas RI. Peserta P4N merupakan figur terbaik dan terpilih dari instansi dan lembaga, baik sipil maupun militer.
"Para peserta akan mempelajari masalah geopolitik dan pengaruhnya terhadap ketahanan bangsa dan negara. Saudara-saudara akan disamakan persepsi dan pemahamannya sebagai kader pimpinan tingkat nasional," kata Kang Ace.
Kepercayaan Internasional terhadap Lemhannas RI
Menurut Gubernur Lemhannas, keikutsertaan perwakilan negara sahabat Australia, India, Kamboja, Malaysia, Singapura, dan Timor Leste merupakan wujud nyata kepercayaan internasional terhadap Lemhannas RI sebagai institusi strategis dalam pengembangan kepemimpinan, pemikiran geopolitik, dan ketahanan nasional.
Partisipasi negara-negara sahabat, ujar Gubernur Lemhannas, bukan sekadar membina hubungan baik, tapi memberikan sumbangan pemikiran strategis berdasarkan perspektif masing-masing dalam meningkatkan ketahanan nasional.
"Sekaligus membangun jaringan komunikasi internasional dan berkontribusi bagi kemampuan negara menghadapi geopolitik dan geostrategis saat ini yang semakin dinamis," ujar Gubernur Lemhannas RI yang juga menjabat Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar itu.
Pendidikan di Lemhannas RI, tutur Kang Ace, memegang peran sangat penting dalam konteks ketahanan nasional. Di tengah situasi dunia yang sangat kompleks dan tantangan multidimensi, ketahanan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).
Kemudian, daya saing ekonomi, ketangguhan sosial budaya, keteguhan ideologi, dan kemampuan politik dalam menjaga kesatuan dan kedaulatan negara.
P4N menjadi wahana untuk membekali para pemimpin dengan kemampuan untuk menganalisis, memahami, dan merumuskan kebijakan tepat di tengah dinamika global yang bergerak sangat cepat.
Program pendidikan di Lemhannas RI juga tidak terlepas dari arah kebijakan nasional yang telah ditetapkan pemerintah. Saat ini, Presiden Prabowo Subianto menggagas Asta Cita, delapan cita-cita pembangunan Indonesia.
Asta Cita menekankan kepada penguatan kedaulatan bangsa, ketahanan pangan dan energi, peningkatan kualitas SDM, dan kemandirian ekonomi dengan hilirisasi dan industrialisasi, pemerataan pembangunan, dan ketahanan nasional yang kokoh.
"Melalui pendidikan ini peserta akan dididik dan dibekali dengan berbagai pengetahuan sebagai kader pimpinan nasional yang berpikir holistik, integral, dan komprehensif dengan mengedepankan moral dan etika kebangsaan," tutur Kang Ace yang juga menjabat Ketua DPD Partai Golkar Jabar.
Gubernur Lemhannas mengatakan, bangsa Indonesia harus mempersiapkan pemimpin yang mampu menghadapi dinamika lingkungan strategis, baik nasional, regional, maupun global. Untuk itu, pimpinan nasional tidak hanya cukup menguasai satu bidang atau sektor tertentu.
"Pimpinan nasional harus mampu melihat persoalan bangsa dari berbagai dimensi secara menyeluruh," ucap Gubernur Lemhannas.
Indonesia Hadapi Isu Strategis
Saat ini, jelas Kang Ace, Indonesia tengah menghadapi isu strategis, sosial ekonomi, tingkat kemiskinan dan pengangguran di beberapa daerah, ketahanan energi dan pangan yang harus dikuatkan, transformasi digital berkembang cepat tapi belum merata di seluruh Indonesia.
Kualitas SDM perlu ditingkatkan untuk bisa bersaing di tingkat global, polarisasi politik dan tantangan konsolidasi demokrasi yang dapat mempengaruhi persatuan dan kesatuan bangsa.
Dinamika geopolitik internasional khususnya di kawasan Indo-Pasifik, krisis lingkungan hidup, dan ancaman perubahan iklim yang berdampak langsung terhadap keberlangsungan pembangunan.
Dalam konteks tersebut, Indonesia tidak dapat mengabaikan berbagai bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah, khususnya Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Bencana itu sangat berdampak kepada kehidupan masyarakat. Kondisi ini dapat memengaruhi ketahanan nasional.
"Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa ancaman bagi ketahanan nasional tidak hanya bersumber dari dimensi politik, ekonomi, dan keamanan, tetapi juga dimensi ekologis, degradasi lingkungan dan perubahan iklim," ujar Kang Ace.
Permasalahan-permasalahan itu, tegas Gubernur Lemhannas, saling berkaitan dan tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan parsial. Karena itu, Indonesia membutuhkan kepemimpinan tangguh, responsif, dan berorientasi kepada mitigasi bencana, penguatan ketahanan daerah.
"Serta sinergi antara pemerintah, TNI, Polri, dan seluruh komponen bangsa dalam menjamin keselamatan rakyat dan keberlanjutan pembangunan nasional," tegas Gubernur Lemhannas.
Pola pikir kepemipinan komprehensif, integral, dan holistik, jadi prasyarat mutlak menjadi syarat mutlak bagi pemimpin masa depan.
"Selama lima bulan setengah ke depan, peserta akan dibekali materi wawasan kebangsaan sebagai nation of value, kepemimpinan nasional, ketahanan nasional, geopolitik dan geostrategis melalui pendekatan Asta Gatra," pungkas Kang Ace.
Editor : Agus Warsudi
Artikel Terkait
