BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia masih terus bermunculan dan kerap meningkat hingga memicu Kejadian Luar Biasa (KLB) di sejumlah daerah. Berdasarkan data tahun 2025, tercatat sekitar 131 ribu kasus DBD secara nasional, dengan Provinsi Jawa Barat menjadi wilayah dengan prevalensi tertinggi.
Tingginya angka tersebut mendorong berbagai pihak untuk memperkuat upaya pencegahan berbasis edukasi dan partisipasi masyarakat. Salah satunya dilakukan melalui kegiatan “Lawan Nyamuk Demam Berdarah!” yang digelar oleh SC Johnson bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI dan Palang Merah Indonesia (PMI), di Nara Park, Bandung, Sabtu (31/1/2026).
Kegiatan ini menggabungkan edukasi kesehatan, diskusi publik, serta aksi nyata pencegahan DBD di ruang terbuka, yang menyasar keluarga dan komunitas di Jawa Barat.
Acara tersebut menghadirkan Talkshow Kesehatan dan Meet & Greet bersama dokter spesialis anak dr. Miza Dito Afrizal, Sp.A, Ketua Tim Kerja Penyehatan Air dan Pengendalian Vektor Kemenkes RI DR. drh. Sugiarto, MSi, serta figur publik Shireen Sungkar dan Teuku Wisnu.
Shireen Sungkar membagikan pengalaman pribadinya yang pernah beberapa kali terpapar DBD, terutama saat menjalani aktivitas syuting dengan kondisi lingkungan yang kurang terjaga.
“Saya pernah beberapa kali kena demam berdarah. Rasanya badan seperti kena shock, sakit banget, dan benar-benar drop. Dari situ saya jadi sangat perhatian soal pencegahan, terutama untuk anak-anak,” ujar Shireen.
Ia menuturkan, upaya pencegahan dilakukan melalui edukasi keluarga, menjaga kebersihan lingkungan, hingga perlindungan saat beraktivitas di luar ruangan.
“Anak saya sekolahnya banyak aktivitas outdoor, jadi nyamuknya juga banyak. Ikhtiar kami ya rutin melakukan pencegahan, salah satunya memastikan anak-anak terlindungi saat beraktivitas,” katanya.
Selain itu, Shireen menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap genangan air di lingkungan rumah yang kerap luput dari perhatian.
“Kadang yang nggak ngeuh itu tempat minum hewan peliharaan atau air yang menggenang. Itu bisa jadi tempat jentik nyamuk. Jadi harus rajin dicek,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Teuku Wisnu, yang mengingatkan kembali pentingnya penerapan 3M sebagai langkah dasar pencegahan DBD.
“3M itu menguras, menutup, dan memanfaatkan atau mendaur ulang barang-barang yang bisa jadi tempat berkembangnya nyamuk. Kadang kita sudah menguras dan menutup, tapi lupa memanfaatkan atau menyingkirkan barang yang tidak terpakai,” kata Teuku.
Menurutnya, edukasi menjadi kunci agar masyarakat tidak hanya memahami konsep pencegahan, tetapi juga konsisten menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, DR. drh. Sugiarto, MSi menegaskan bahwa pengendalian vektor seperti nyamuk Aedes aegypti tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, melainkan membutuhkan peran aktif masyarakat.
“Pencegahan DBD harus dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu rumah dan komunitas. Edukasi, perubahan perilaku, dan aksi nyata adalah kunci,” ujarnya.
Selain talkshow, kegiatan ini juga diramaikan dengan berbagai aktivitas komunitas sebagai bentuk aksi nyata pencegahan DBD, sekaligus pengingat bahwa upaya melawan demam berdarah membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan kesadaran bersama.
Editor : Agung Bakti Sarasa
Artikel Terkait
