Siap-Siap! Mahkota Binokasih Bakal Keliling Jabar, Simak Jadwal dan Rutenya

Muhammad Rafki Razif
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar, Iendra Sofyan. Foto: iNews/M Rafki.

BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Kemeriahan budaya Sunda akan menyapa warga Jawa Barat selama dua pekan ke depan. Sebanyak 10.000 peserta, mulai dari tokoh adat hingga kepala daerah, bersiap menyemarakkan Karnaval Budaya "Nyuhun Buhun, Nata Nagara" yang dimulai dari Kabupaten Sumedang, pada Sabtu (2/5/2026).

Agenda ini menjadi pembuka rangkaian peringatan Hari Tatar Sunda yang diperingati setiap 18 Mei.

Pemerintah menegaskan karnaval digelar berbasis regulasi Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 13 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Hari Tatar Sunda serta Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 003.05/Kep.159-Adpim/2026 tentang Panitia Penyelenggara Peringatan Hari Tatar Sunda Tahun 2026, sekaligus pijakan historis kuat, merujuk pada keberadaan Kerajaan Sunda sejak 18 Mei 669 Masehi yang dipimpin Sri Maharaja Tarusbawa.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar, Iendra Sofyan mengungkapkan kirab akan diawali dari Sumedang dengan mengarak Mahkota Binokasih, simbol penting warisan kejayaan Sunda.

“Misalnya Keraton Sumedanglarang. Jadi pertama adalah keseniannya yang berbeda, yang kedua adalah lokasinya. Sedangkan yang lainnya sama, yaitu memperkenalkan dan membawa Mahkota Binokasi,” ucap Iendra di Gedung Sate, Bandung, Jumat (1/5/2026).

Di Sumedang, kirab akan menempuh rute sepanjang 2-3 kilometer dengan melibatkan ragam kesenian khas daerah. Selain sebagai media edukasi budaya, kegiatan ini juga didorong menjadi penggerak ekonomi lokal melalui keterlibatan sanggar seni, perajin, hingga pelaku UMKM.

“Pertama terhadap aspek budaya. Jadi kita membuat sebuah media informasi yang ingin menyosialisasikan bahwa budaya Sunda ini seperti apa. Kedua terhadap aspek sosial ya. Ketiga tentang ekonomi pasti. Nanti banyak sanggar-sanggar yang kita libatkan, pengrajin, UMKM,” ungkapnya.

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi menegaskan karnaval ini dirancang sebagai perjalanan budaya yang menghidupkan kembali jejak sejarah Sunda lintas wilayah.

Rute kirab dimulai dari Sumedang (2 Mei), kemudian bergerak ke Kawali (3 Mei) yang dikenal sebagai pusat Kerajaan Sunda Kawali. Selanjutnya menuju Kampung Naga (4 Mei), lalu ke Cianjur (5 Mei).
Perjalanan berlanjut ke Kebun Raya Bogor (6 Mei), kemudian ke Depok (8 Mei), Karawang (9 Mei), hingga mencapai Cirebon (10 Mei). 

Puncak kirab akan digelar di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat pada 16 Mei, sebelum ditutup dalam agenda “Peuting Munggaran Milangkala Tatar Sunda” di Gedung Sate pada 17 Mei.

“Maknanya satu, mengingatkan tentang sejarah Sunda, dari Kawali sampai terbentuknya Kasultanan Cirebon,” kata Dedi.

Lebih jauh, Dedi menegaskan karnaval ini juga menjadi instrumen penataan wilayah. Sejumlah titik yang dilalui akan disentuh program pembangunan, mulai dari revitalisasi Keraton Sumedanglarang, penataan kawasan Kawali, peningkatan fasilitas wisata di Kampung Naga, hingga penguatan situs sejarah di berbagai daerah. Selain itu, aspek kebersihan lingkungan turut menjadi perhatian utama. 

“Pokoknya Jawa Barat nanti yang bersih bukan hanya Kota Bandung, seluruh wilayah Jawa Barat harus bersih,” tegasnya.

Sebanyak 10 ribu peserta ditargetkan ambil bagian dalam karnaval yang melintasi sembilan kabupaten/kota ini. Mereka terdiri dari 580 pelaku seni, 270 tokoh adat dan budayawan, 13 kampung adat, serta 27 kepala daerah se-Jawa Barat.

Ke depan, kirab Karnaval Binokasih dipastikan menjadi agenda tahunan Pemprov Jabar, menggabungkan pelestarian sejarah, penguatan identitas budaya, sekaligus dorongan nyata bagi ekonomi daerah berbasis kearifan lokal.

Editor : Rizal Fadillah

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network