Pameran Aurora Arazzi di ArtSociates, Menemukan Makna Lewat Setiap Langkah
BANDUNG iNewsBandungRaya.id - Pameran tunggal Aurora Arazzi bertajuk Around and About di ArtSociates gallery and cafe, Kabupaten Bandung Barat, yang dikurasi oleh Lisa Markus mempersembahkan karya terbaru Aurora, sebuah ode untuk observasi-observasi minor dan tak berbahaya.
Dari koleksi observasi Aurora dalam pameran ini, serangkaian nuansa yang persisten muncul. Pameran tunggal Aurora Arazzi, Around and About di gedung Lawangwangi, ArtSociates Gallery Cafe, jalan Dago Giri 99a, Bandung Barat, akan berlangsung hingga tanggal 24 November 2025.
Belasan karya instalasi seni dan lukisan disajikan dengan cara berbeda oleh Aurora Arazzi dengan pertimbangan pengalaman berjalan kaki; menemukan, memungut benda/objek, merekam ruang untuk menjadi bahan pertimbangan eksplorasi karyanya pada pameran tunggal kedua ini.
Kurator pameran, Liza Markus, mengungkapkan bahwa penyajian karya seni rupa kontemporer dari Aurora juga mengupayakan kategori pengalaman seni.
Pertama, rasa ingin tahu. Bukan terhadap suatu objek atau lokasi tertentu yang menarik, melainkan untuk melepaskan diri dari rutinitas; dalam metode menggambar yang biasa, dalam jalur perjalanan yang paling efektif, dengan cara-cara yang telah "terlalu dikenal". Oleh karena itu, observasinya didorong oleh dorongan menuju hal yang tak diketahui: tujuan yang tak diketahui dan titik akhir yang tak diketahui. Hal yang tak diketahui datang sebelum penemuan, dan rasa ingin tahu datang sebelum berjalan.
Kedua, berjalan adalah fasilitator untuk memurnikan hal yang diketahui guna memberi ruang bagi pemikiran-pemikiran baru, dalam kata-kata Aurora sendiri, untuk terlibat dalam sebuah pengalaman yang "intensitas rendah, paparan tinggi". Paparan adalah penyeimbang yang menjaga berjalan sebagai aktivitas yang "adil" jika tidak "netral".
Dalam berjalannya, ia terpapar stimulus sama seperti stimulus itu baginya. Ia terlindungi dari orang lain dan stimulus, melalui tikungan jalan, perbedaan ketinggian dan medan, sebagaimana beberapa stimulus tetap tersembunyi baginya melalui cara yang sama.
"Ini pameran portfolio Aurora dan karyanya terbilang seniman biennale dan saya belum paham bagaimana cara menjualnya. Itu sebabnya Aurora belum di-manage under artist management AsSociates," kata Andonowati di gedung Lawangwangi, ArtSociates Gallery and Cafe, Bandung Barat, Jumat (24/10/2024).
Aurora memperkenalkan konsep visibilitas dan ketidakjelasan sebagai argumen bahwa, memang, keduanya merupakan elemen penting dalam tindakan mengamati. "Jika Anda melihat segalanya, mungkin Anda tidak melihat apa pun."
Berdasarkan hukum keberadaan manusia sebagai objek tiga dimensi, seketika muncul 'verso'; bagian belakang yang tak terlihat; kemudian, melalui berjalan, terjadi selubung dan penyingkapan visual yang terus-menerus di depan dan di belakang kita. Dan berdasarkan aturan opasitas, mata hanya dapat melihat sejauh dan sejelas cahaya yang menembus.
Ketidakjelasan parsial—atau sinonimnya visibilitas parsial—memaksa pengamatan, menyebabkan hasrat untuk menemukan sesuatu, bukan untuk memecahkan sesuatu secara langsung, atau untuk terjun ke dalam tindakan konsekuensial apa pun, melainkan sekadar untuk memuaskan dorongan bawaan dan manusiawi sebagai makhluk yang ingin tahu.
Ketiga, objek. Dalam perjalanannya, menyadari bagaimana observasi, rasa ingin tahu, dan hasrat cenderung saling memicu, Aurora pasti akan menemukan objek yang menggelitiknya. Bayangkan pikirannya seperti museum dengan komite etik yang solid yang mencoba menentukan kemungkinan aksesi artefak.
Objek-objek yang muncul dalam karyanya adalah objek-objek bebas: liar, liar, atau hilang. Objek-objek yang tidak bebas, atau tidak dapat dikoleksi, ia tiru melalui video, lipatan kertas, lukisan, patung, dan cara-cara lainnya.
Karena baginya, apakah suatu objek nyata atau replika tidaklah penting selama objek tersebut terekam, para pengunjungnya seharusnya tidak perlu repot-repot memikirkan hal-hal tersebut.
Terakhir, simulasi. Keaslian, sekali lagi, bukanlah perhatian utama Aurora karena menghadirkan susunan material yang asli bukanlah tujuannya dalam menggabungkan objek-objek tersebut. Melainkan, karena ia merasa bahwa perjalanan observasinya hanya dapat ditransfer melalui pengalaman.
Pameran itu sendiri memandu pengunjung ke dalam latihan mengamati dengan penuh perhatian, di mana terkadang terdapat konfrontasi yang tak terelakkan dengan ketidakjelasan, ketinggian, jarak, dan skala.
Pada akhirnya, ia mengajak pengunjungnya untuk mengamati demi mengamati, menggunakan metode berjalan. Meskipun mendorong pengunjung untuk terlibat dalam aktivitas semacam itu mungkin tampak tanpa tujuan atau egois.
Hal itu justru menjadi sebuah penyelidikan tentang siapa—atau apa—yang saat ini memegang kendali atas perhatian publik, dan apakah perhatian tersebut kini diserap secara paksa secara massal untuk melayani kepentingan yang bertentangan dengan kebutuhan, martabat, dan jati diri mereka.
Maka, fiksasi Aurora terhadap pengamatan menjadi penting. Awalnya, untuk membiasakan diri kembali menjadi perseptif alih-alih terus-menerus terlibat, dan kemudian, untuk mendapatkan kembali kendali atas di mana dan kapan seseorang memegang perhatian mereka.
Aurora Arazzi lebih lanjut menjelaskan, “Experience yg ingin di-share adalah ruangan yang bisa diolah. Ruang ini unik karena ada lower-ground dan upper-ground. Perbedaan ruang itu jadi peluang. Pengalaman jalan kaki, memulung pengalaman, bentuk dan objek untuk dikonfigurasi menjadi bentuk lain. Berjalan kaki di sini cenderung mengeksplorasi berjalan di ruang pameran.
Karya "Sailing the duck weed" saya mengajak publik untuk merasakan kembali pengalaman berjalan kaki di ruang artistik secara lebih intim, sehingga menjadi sebuah aksi performatif dilihat oleh orang lain. Selamat nyemplung di air kertas yang sudah saya sajikan di gedung Lawangwangi, ArtSociates Gallery & Cafe," ujar Aurora di ruang pameran.
Arin Sunaryo, dalam peresmian pembukaan pameran tunggal Aurora Arazzi mengatakan,Aurora adalah seniman yang sangat intens mengeksplorasi material, objek kertas. Material yang fragile bisa menjadi sesuatu yang solid.
“Ada kejujuran material dan kejujuran personal pada karyanya sebagai kesatuan. Itu privilege yang mungkin sulit ditemukan pada seniman. Aurora bisa meninggalkan comfort zone pada karya seni dengan skill dan ketekunannya,” ucapnya. (*)
Editor : Abdul Basir