get app
inews
Aa Text
Read Next : Unik dan Ramah Anak, Posko Terpadu Polres Cimahi Mengusung Konsep Karakter Film Transformer

Revolusi Hijau di Industri Susu, Pengurangan Emisi hingga Masa Depan Berkelanjutan

Selasa, 27 Januari 2026 | 17:42 WIB
header img
KPBS Pangalengan lakukan langkah inovatif dengan teknologi ramah lingkungan untuk menekan emisi karbon. Foto: iNews/ M Rafki.

BANDUNG, iNewsBandugRaya.id - Industri makanan dan minuman di Indonesia tengah menghadapi tantangan besar dalam menekan emisi gas rumah kaca. Pada 2022, sektor ini tercatat menyumbang sekitar 4,77 persen dari total emisi nasional. Di tengah tantangan itu, Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan mulai mengambil langkah konkret dengan beralih ke teknologi ramah lingkungan demi menekan jejak karbon operasional mereka.

Upaya ini dilakukan melalui kolaborasi KPBS Pangalengan bersama HSBC Indonesia dan World Resources Institute (WRI) Indonesia. Kolaborasi tersebut mendorong implementasi teknologi efisiensi energi untuk membangun rantai pasok susu yang lebih berkelanjutan, dimulai langsung dari sektor hulunya.

Sebagai salah satu koperasi susu terbesar di Indonesia, KPBS Pangalengan sebelumnya masih sangat bergantung pada listrik konvensional dan bahan bakar fosil. Ketergantungan ini bukan hanya berdampak pada tingginya biaya operasional, tetapi juga meningkatkan risiko terhadap fluktuasi harga energi global, sekaligus memperbesar kontribusi emisi karbon.

Melalui program ini, KPBS mulai mengintegrasikan tiga teknologi utama. Pertama, pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Milk Collection Point (MCP) Los Cimaung. Kedua, instalasi solar water heater untuk mendukung proses sanitasi dan operasional harian. Ketiga, penerapan Variable Speed Drive (VSD) pada pompa air dingin di pabrik pengolahan susu PT SKP guna mengoptimalkan konsumsi listrik.

Hasil implementasi yang berlangsung sejak Agustus hingga Desember 2025 menunjukkan dampak yang cukup signifikan. KPBS Pangalengan berhasil menurunkan konsumsi energi hingga 995,66 kilowatt hour (kWh) per bulan. Selain menghemat biaya operasional, inisiatif ini juga berkontribusi pada pengurangan emisi karbon sekitar 0,87 ton CO₂ setiap bulan.

Energy Transition Project Lead WRI Indonesia, Ahmad Muzaki Syafii, mengatakan sektor persusuan memiliki peran penting dalam agenda transisi energi.

“Transisi ke energi terbarukan itu menjadi sesuatu yang penting. Nah, di berbagai sektor, termasuk industri atau produk susu, itu juga menjadi salah satu sektor yang kami pertimbangkan untuk dilakukan transisi energi,” ujar Ahmad Muzaki saat ditemui di Unit Produksi KPBS Pangalengan, Senin (26/1/2026).

Ia menjelaskan, KPBS dipilih karena berada di sektor hulu rantai pasok, yang selama ini kerap luput dari perhatian.

“Kami melihat KPBS ini sebagai sektor hulu dari rantai pasok. Jadi ini menjadi perhatian khusus, karena selama ini biasanya hanya industri hilir saja. Kami ingin sektor hulunya juga terlibat dalam transisi energi,” katanya.

Sebelum intervensi dilakukan, proses produksi susu di KPBS sepenuhnya bergantung pada energi fosil.

“Dari sisi penggunaan energi, sebelumnya KPBS menggunakan energi fosil, dari PLN dan juga solar. Setelah diintervensi, kami melihat ternyata ada potensi energi bersih, misalnya dari penggunaan solar water heater, dan tidak menutup kemungkinan teknologi lain juga masuk,” jelasnya.

Ahmad Muzaki menyebut, selain berdampak pada lingkungan, pemanfaatan energi terbarukan juga mulai menunjukkan efek pada efisiensi operasional.

“Dari efektivitas produksi dan penghematan tentunya ada. Memang angkanya setiap bulan berbeda, karena teknologi dipengaruhi banyak faktor. Tapi sejak Agustus sampai Desember, sudah terlihat potensi efisiensi energi dan cost efficiency di MCP,” ujarnya.

Program pendampingan ini sendiri telah berjalan hampir dua tahun, mulai dari tahap penghitungan hingga implementasi teknis di lapangan.

“Implementasi teknisnya sekitar enam bulan terakhir. Setiap bulan kami pantau datanya untuk melihat bagaimana efisiensi bisa terus ditingkatkan dan dioptimalkan,” katanya.

Sementara itu, perwakilan HSBC Indonesia menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung adopsi praktik rendah karbon di berbagai sektor.

“Program ini bermitra bersama WRI dan merupakan bagian dari program filantropi atau CSR. Tujuannya supaya sektor-sektor tertentu mulai mengadopsi praktik dan operasional yang berkelanjutan atau low carbon,” ujarnya.

Ke depan, WRI Indonesia membuka peluang pengembangan teknologi serupa di titik-titik lain. Dengan dukungan kebijakan yang tepat serta komitmen berkelanjutan dari pelaku industri, model dekarbonisasi di KPBS Pangalengan diharapkan tak hanya menekan emisi, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi peternak rakyat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Editor : Rizal Fadillah

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut