get app
inews
Aa Text
Read Next : Kolaborasi Pushidrosal Jadi Penentu Keberhasilan Proyek Giant Sea Wall

Penelitian Akademisi Bongkar Paradigma Lama, Uang Bukan Solusi Pengentasan Kemiskinan Perdesaan

Senin, 16 Februari 2026 | 12:35 WIB
header img
Prof. Achmad Tjachja Nugraha menilai bahwa kemiskinan tidak hanya soal kekurangan modal ekonomi, tetapi juga berkaitan erat dengan kekuatan hubungan sosial di tengah masyarakat. Foto/Istimewa

BANDUNG,iNews BandungRaya.id - Pengentasan kemiskinan di perdesaan identik dengan bantuan tunai, pembangunan infrastruktur, hingga program kredit usaha rakyat.

Pendekatan tersebut dinilai belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan. Sebab bisa jadi modal sosial adalah kunci menekan kemiskinan di desa dan bukan sekadar bantuan uang.

"Selama ini kita terlalu fokus pada bantuan material. Padahal masyarakat desa memiliki kekuatan besar yang sering diabaikan, yaitu modal sosial - kepercayaan, gotong royong, solidaritas, dan jaringan komunitas,” ujar Prof. Achmad Tjachja Nugraha dalam keterangannya, Senin (16/2/2026).

Desa-desa di Indonesia sejatinya memiliki struktur sosial yang kuat. Hubungan antarwarga tidak semata bersifat transaksional, melainkan dibangun atas dasar nilai kebersamaan dan norma sosial yang telah mengakar turun-temurun.

Inilah yang disebut sebagai modal sosial. Gagasan tersebut yang diangkat dalam buku “Kemiskinan? Modal Sosial sebagai Kunci Pengurangan Kemiskinan Perdesaan Indonesia” yang ditulis oleh dirinya dan Dr. Ahmadriswan Nasution, S.Si., M.T.

Melalui karya ini, Prof. Achmad Tjachja Nugraha, menawarkan sudut pandang berbeda. Ia menegaskan bahwa kemiskinan tidak hanya soal kekurangan modal ekonomi, tetapi juga berkaitan erat dengan kekuatan hubungan sosial di tengah masyarakat.

Dalam buku tersebut dijelaskan, modal sosial mencakup unsur kepercayaan antarindividu, partisipasi dalam kegiatan kolektif, kepatuhan terhadap norma bersama, hingga keberadaan jaringan sosial yang solid.

Ketika unsur-unsur ini terpelihara dengan baik, masyarakat lebih mampu bertahan menghadapi tekanan ekonomi.

“Rumah tangga yang memiliki jaringan sosial kuat cenderung lebih cepat bangkit saat menghadapi krisis. Mereka punya akses informasi, dukungan moral, bahkan bantuan nyata dari komunitasnya,” kata Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Buku ini juga menyoroti bahwa program pengentasan kemiskinan akan lebih efektif bila dirancang dengan memperhatikan kekuatan sosial lokal.

Ia menilai, masyarakat desa tidak boleh diposisikan semata sebagai objek penerima bantuan. Sebaliknya, mereka harus dilihat sebagai aktor utama pembangunan.

“Kalau masyarakat dilibatkan dan modal sosialnya diperkuat, program pengentasan kemiskinan akan lebih berkelanjutan. Ada rasa memiliki, ada tanggung jawab kolektif,” ujarnya.

Lebih jauh, buku ini mengajak pembaca memahami kemiskinan secara lebih humanistik. Kemiskinan bukan hanya persoalan angka statistik, melainkan kondisi sosial yang dipengaruhi relasi, struktur komunitas, dan kemampuan masyarakat membangun kolaborasi.

Sementara itu, Dr. Ahmadriswan Nasution menambahkan bahwa buku ini tidak hanya menawarkan gagasan konseptual, tetapi juga membahas secara komprehensif bagaimana modal sosial dapat digali, dikembangkan, dan diukur dalam berbagai bentuk serta konteks perdesaan.

Ia menegaskan bahwa kebijakan publik dan program pembangunan harus diselaraskan dengan kekuatan sosial yang telah tumbuh di masyarakat.

“Buku ini mengulas bagaimana modal sosial dapat diperkuat dan dimanfaatkan sebagai fondasi pembangunan desa. Rumah tangga perdesaan harus dipandang sebagai aktor utama dalam pengurangan kemiskinan, bukan sekadar objek kebijakan. Ketika kekuatan sosial lokal diberdayakan, pembangunan akan lebih partisipatif, berkelanjutan, dan berdampak nyata,” ujarnya. (*)

Editor : Rizki Maulana

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut