Modal Kecil, Hasil Fantastis! Kisah Dua Brand Tas Bandung yang Sukses Berkembang di Era Digital
BANDUNG, iNewsBandungRaya.id – Dua pelaku usaha lokal asal Kota Bandung membagikan kisah perjalanan mereka membangun bisnis dari nol hingga berkembang melalui platform digital. Berawal dari modal terbatas, keduanya kini mampu memperluas pasar, membuka lapangan pekerjaan, bahkan menembus pasar internasional.
Owner brand tas ART, Fahri Muhammad Ridwan, mengatakan usahanya bermula dari tas serut yang dibuat dan dijual kepada teman-teman tongkrongan pada akhir 2015. Tak disangka, produk tersebut mendapat respons positif hingga akhirnya dipasarkan melalui Shopee.
"Awalnya saya jual ke teman-teman, ternyata permintaannya cukup banyak. Setelah masuk Shopee, permintaannya juga terus meningkat. Dari situlah bisnis ini mulai berkembang," ujar Fahri di workshop ART, Komplek Bumi Asri, Bandung Kulon, Kota Bandung, Kamis (9/7/2026).
Fahri menjelaskan, ART lahir dari keresahan bersama teman-teman Karang Taruna yang ingin memiliki kegiatan produktif setelah lulus kuliah. Awalnya mereka hanya berkumpul di basecamp, kemudian berinisiatif membangun usaha bersama dengan sistem reseller.
Menurutnya, modal awal bisnis hanya sekitar Rp500 ribu dari dana pribadi sebelum akhirnya berkembang melalui sistem patungan bersama rekan-rekannya. Kini ART memiliki aset mendekati Rp3 miliar dengan omzet ratusan juta rupiah setiap bulan.
Saat ini sekitar 75 persen penjualan ART berasal dari Shopee. Selain pasar domestik, produk mereka juga telah dipasarkan ke Singapura, Malaysia, Filipina, Taiwan hingga Thailand melalui program ekspor Shopee.
Fahri mengakui perjalanan bisnisnya tidak selalu mulus. Ia sempat menghadapi berbagai kasus penipuan saat masih berjualan melalui media sosial, hingga terpukul ketika pandemi Covid-19 melanda. Namun, ART mampu bertahan dengan beralih memproduksi masker kain yang saat itu memiliki permintaan tinggi.
Kini ART memiliki kapasitas produksi sekitar 7.000 produk per bulan dengan total sekitar 100 tenaga kerja yang sebagian besar berasal dari lingkungan sekitar tempat usahanya berdiri.
Sementara itu, kisah serupa juga datang dari brand tas Montraf yang dirintis Gun-Gun Gunawan pada 2021.
Gun-Gun mengaku sebelum mendirikan brand sendiri, dirinya merupakan seorang karyawan sekaligus dropshipper yang telah berjualan di Shopee sejak 2017. Pengalaman tersebut menjadi bekal untuk membangun usaha secara mandiri.
"Saya sebelumnya bekerja sambil menjadi dropshipper. Dari situ muncul motivasi untuk membuat merek sendiri. Alhamdulillah pada 2021 Montraf mulai berdiri dan berkembang sampai sekarang," katanya saat ditemui di workshop Montraf, Jalan Rumah Sakit, Cinambo, Kota Bandung, Kamis (9/7/2026).
Ia sengaja memilih produk tas karena melihat persaingan di kategori tersebut saat itu masih lebih terbuka dibandingkan produk apparel. Montraf pun memfokuskan produknya pada kategori traveling dan perlengkapan aktivitas luar ruangan.
Dengan modal awal kurang dari Rp10 juta, Gun-Gun membangun usahanya secara bertahap menggunakan sistem "bola salju", yakni memutar keuntungan untuk terus mengembangkan bisnis tanpa bergantung pada pinjaman.
Menurutnya, kehadiran Shopee memberikan dampak besar terhadap pertumbuhan usaha yang dirintisnya. Penjualan terus mengalami peningkatan setiap tahun seiring berkembangnya merek Montraf di platform digital.
Baik ART maupun Montraf menilai digitalisasi melalui marketplace menjadi salah satu faktor penting yang membantu pelaku UMKM memperluas pasar, meningkatkan kepercayaan konsumen, sekaligus membuka peluang usaha yang lebih besar bagi brand lokal Indonesia.
Editor : Rizal Fadillah