get app
inews
Aa Text
Read Next : Penanaman di Pangalengan, Dedi Mulyadi Tegaskan Komitmen Konservasi Jabar

21.831 Pohon Ditanam, Upaya Menjaga Biodiversitas Megamendung Terus Berlanjut

Jum'at, 14 Agustus 2026 | 14:58 WIB
header img
Paseban Foundation memperkuat kolaborasi konservasi di Bentang Alam Megamendung. Foto: Ist.

BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Paseban Foundation memperkuat perannya sebagai wadah kolaborasi lintas sektor yang menghubungkan pengalaman konservasi di lapangan dengan produksi dan penyebarluasan pengetahuan.

Komitmen tersebut mengemuka dalam Paseban Foundation Annual Dinner 2026 yang digelar bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional sekaligus memperingati dua tahun berdirinya Paseban Foundation.

Mengusung tema “Partnership in Cultivating and Stewarding the Biosphere Reserve”, kegiatan tersebut mempertemukan berbagai pihak, mulai dari Kementerian Kehutanan, Kementerian Komunikasi dan Digital, Kedutaan Besar Inggris, FAO, UNESCO, UNDP, DPR RI, organisasi konservasi, akademisi, dunia usaha, masyarakat sipil, filantropi, tokoh budaya, tokoh publik hingga generasi muda.

Pertemuan lintas sektor tersebut menegaskan bahwa upaya menjaga Bentang Alam Megamendung sebagai bagian dari Cagar Biosfer Cibodas membutuhkan kolaborasi yang melampaui batas sektor dan kelembagaan.

Paseban Foundation Dorong Keberlanjutan Konservasi

Pendiri sekaligus Pembina Paseban Foundation, Andy Utama, mengatakan lembaganya dibangun untuk menyediakan wadah agar kerja konservasi dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Menurut Andy, upaya konservasi tidak bisa bergantung pada satu orang atau diselesaikan dalam satu periode pengabdian. Karena itu, diperlukan regenerasi agar pekerjaan konservasi dapat terus dilanjutkan.

“Pada akhirnya kita semua akan kembali. Karena itu, pekerjaan ini harus memiliki penerus. Konservasi membutuhkan endurance dan harus diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Andy.

Atas dasar tersebut, Paseban Foundation dikembangkan sebagai ruang yang menghubungkan pemerintah, dunia usaha, lembaga internasional, akademisi, organisasi konservasi, masyarakat dan generasi muda.

Paseban Foundation tidak menempatkan diri sebagai pusat seluruh aktivitas konservasi. Sebaliknya, lembaga tersebut berupaya menjadi penghubung agar berbagai pihak dapat membawa kewenangan, sumber daya dan keahliannya untuk menjaga bentang alam yang sama.

Konservasi Megamendung Libatkan Perlindungan Habitat

Peran Paseban Foundation sebagai hub kolaborasi dibangun berdasarkan pengalaman konservasi yang dilakukan secara langsung di lapangan.

Melalui konservasi in-situ, Paseban Foundation menjalankan berbagai kegiatan, termasuk perlindungan habitat, restorasi ekosistem serta penanaman lebih dari 21.831 pohon dari berbagai jenis lokal.

Selain itu, Paseban Foundation juga mengembangkan konservasi ex-situ melalui penangkaran nonkomersial burung dan mamalia. Program tersebut telah menghasilkan tiga anak rusa.

Survei biodiversitas, pengamatan langsung dan penggunaan kamera jebak juga dilakukan untuk memantau keanekaragaman hayati di kawasan tersebut.

Executive Director Paseban Foundation, Wahdi Azmi, mengatakan hasil pemantauan menunjukkan keberadaan lima spesies primata Jawa dalam satu bentang alam yang relatif kecil.

Megamendung juga menjadi habitat bagi berbagai satwa dan flora pegunungan tropis, termasuk Elang Jawa dan Macan Tutul Jawa.

“Jawa adalah pulau dengan kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia, sebuah lanskap yang sangat didominasi manusia. Namun, di Megamendung, kelima spesies primata yang masih tersisa di Pulau Jawa telah kami konfirmasi keberadaannya,” kata Wahdi.

Data Konservasi Diolah Menjadi Pengetahuan

Pengalaman konservasi di lapangan tidak hanya berhenti pada kegiatan perlindungan ekosistem. Paseban Foundation juga mengolah data, temuan dan pembelajaran menjadi pengetahuan yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan.

Pengetahuan tersebut diarahkan untuk mendukung penelitian, pendidikan, advokasi, penguatan kapasitas, komunikasi publik hingga pengambilan keputusan.

Dengan pendekatan tersebut, Paseban Foundation mengembangkan peran sebagai knowledge institution yang menghubungkan praktik konservasi dengan produksi dan distribusi pengetahuan.

Komitmen tersebut ditandai dengan peluncuran buku “Lens Chronicle 1: Biodiversity of Paseban” dan “Kepemimpinan Bentang Alam”, serta pemutaran perdana film dokumenter “The Silent Resilience”.

Survei biodiversitas, penelitian, dokumentasi, buku, film, pendidikan dan knowledge management ditempatkan sebagai satu ekosistem pengetahuan.

Tujuannya agar pengetahuan yang diperoleh dari lapangan tidak hanya tersimpan di lingkungan internal, tetapi juga dapat meningkatkan kesadaran publik dan menjadi dasar untuk membangun kolaborasi.

Generasi Muda Dinilai Penting dalam Konservasi

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengapresiasi konsistensi kerja konservasi yang dilakukan Paseban Foundation.

Menurut Nezar, data yang diperoleh dari lapangan perlu diolah dan disebarluaskan sehingga dapat menjadi bagian dari percakapan publik.

Nezar juga menilai Paseban Foundation memiliki potensi untuk menjadi hub yang mempertemukan berbagai inisiatif dan kekuatan dalam mendukung pelestarian Cagar Biosfer Cibodas.

Sementara itu, mewakili Kementerian Kehutanan, Indra Exploitasia menekankan pentingnya kolaborasi sekaligus keterlibatan generasi muda dalam keberlanjutan konservasi.

“Yang sudah senior ini sebentar lagi akan purna tugas. Karena itu, dibutuhkan generasi muda untuk mengambil alih tugas dan melanjutkan pekerjaan ini untuk masa depan,” ujarnya.

Kepemimpinan Bentang Alam Butuh Kolaborasi

Penasihat Paseban Foundation, Wiratno, mengatakan kebutuhan kolaborasi muncul karena karakter bentang alam tidak mengenal batas administratif.

Menurutnya, air, hutan, satwa liar dan manusia merupakan bagian dari satu sistem. Karena itu, pengelolaannya membutuhkan kemampuan untuk menyatukan berbagai kepentingan dan kewenangan.

“Kepemimpinan bentang alam bukanlah tentang memimpin satu institusi, melainkan tentang menyatukan dan mengolaborasikan berbagai pihak untuk menjaga satu ekosistem yang sama,” ujar Wiratno.

Melalui kolaborasi lintas sektor, pengalaman konservasi di lapangan dan pengelolaan pengetahuan, Paseban Foundation berupaya membangun fondasi kelembagaan untuk menjaga Bentang Alam Megamendung secara berkelanjutan.

Upaya tersebut diharapkan dapat memastikan kerja konservasi tidak berhenti pada satu program, satu figur atau satu generasi, tetapi terus berlanjut melalui kolaborasi dan regenerasi.

Editor : Rizal Fadillah

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut