get app
inews
Aa Text
Read Next : Gandeng Kemkomdigi di Istana Merdeka, AKKSI Jabar Ajak Kreator Konten Kawal Program Sekolah Rakyat

Setiap 43 Detik Anak Meninggal Akibat 'Si Pembunuh Senyap', Ibu di Jabar Wajib Waspada

Rabu, 19 Agustus 2026 | 10:45 WIB
header img
Edukasi Pencegahan Pneumonia. (Foto: Istimewa)

BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Ancaman bahaya pneumonia pada kelompok rentan balita masih menjadi momok menakutkan di Indonesia. Menderita predikat sebagai "pembunuh senyap", penyakit infeksi paru ini terus merenggut nyawa anak-anak secara global dengan statistik yang mengerikan: satu nyawa melayang setiap 43 detik.

Merespons kondisi darurat literasi tersebut, MSD Indonesia menggelar edukasi bertajuk “Bantu Cegah Pneumonia, Berikan Perlindungan Lebih Luas pada Anak Sejak Dini” yang merangkul komunitas ibu di Kota Bandung guna membentengi anak dari risiko fatal sejak usia dini.

Kesenjangan Informasi dan Angka Kasus Menakutkan di Jawa Barat

Laporan World Health Organization (WHO) menempatkan pneumonia sebagai pemicu 14% kematian balita di dunia. Di tanah air, BPJS Kesehatan mencatat penyakit ini menelan biaya pengobatan tertinggi sepanjang tahun 2023. Pemerintah pun membidik target agresif untuk menekan insiden pneumonia hingga 70%.

Khusus di wilayah Jawa Barat, akumulasi kasus pneumonia pada balita menyentuh angka fantastis—mencapai 578.490 kasus sepanjang rentang tahun 2019 hingga 2024. Masalah kian pelik akibat maraknya hoaks dan keterlambatan orang tua mengenali gejala awal.

External Affairs Director MSD Indonesia, Dudit Triyanto, menggarisbawahi krusialnya edukasi berbasis fakta ilmiah untuk memutus rantai misinformasi.

“Pneumonia adalah ancaman yang sebagian besar risikonya dapat pencegahannya melalui perlindungan sejak dini. Tantangan yang kita handapi saat ini tidak hanya terkait akses, tetapi juga kesenjangan informasi dan maraknya misinformasi. Melalui sesi edukasi ini, kami ingin membantu menghadirkan informasi yang relevan dan berbasis sains agar orang tua khususnya di wilayah Jawa Barat, bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan kesehatan untuk anaknya”.

Komunitas Ibu Jadi Benteng Pertahanan Pertama

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, dr. R. Vini Adiani Dewi, MMRS, mendorong sinergi hingga tingkat akar rumput untuk menekan angka penularan. Menurutnya, kader kesehatan dan kelompok ibu-ibu memegang kunci vital.

“Kasus pneumonia pada balita di Jawa Barat masih perlu menjadi perhatian bersama. Upaya pencegahan sejak dini, termasuk melalui imunisasi dengan perlindungan yang lebih luas sesuai rekomendasi, perlu terus diperkuat. Puskesmas, kader, dan komunitas ibu memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam menyampaikan informasi kesehatan kepada keluarga.”

Mengapa Balita Sangat Rentan dan Mitos Suntikan Sekaligus

Pneumonia kerap memburuk secara mendadak lantaran daya tahan tubuh anak yang belum sempurna. Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Universitas Padjajaran sekaligus Konsultan Infeksi dan Penyakit Tropis, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.Inf.P.T.(K), mengingatkan bahwa keterlambatan deteksi bisa berakibat fatal.

“Pneumonia pada anak sering kali berkembang cepat tanpa gejala awal yang jelas, sehingga banyak orang tua terlambat menyadarinya. Padahal, anak usia balita memiliki sistem imun yang belum matang, sehingga lebih rentan mengalami infeksi berat. Karena itu, langkah pencegahan seperti imunisasi menjadi sangat krusial untuk membantu melindungi anak sejak dini dari risiko komplikasi serius hingga rawat inap.”

Menjawab keraguan para ibu mengenai keamanan pemberian beberapa vaksin sekaligus (imunisasi simultan), Prof. Anggraini menegaskan bahwa langkah medis tersebut aman dan sudah sesuai panduan resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

“Banyak orang tua khawatir ketika anak menerima beberapa imunisasi sekaligus. Padahal, secara medis hal ini mungkin dilakukan karena sistem imun anak mampu merespons beberapa antigen dalam waktu bersamaan. Pemberian vaksin kombinasi atau simultan juga justru membantu memastikan anak mendapatkan perlindungan lebih cepat dan lengkap, terutama pada periode usia rentan,” jelasnya.

Melalui kolaborasi lintas sektor ini, kesadaran publik diharapkan melesat naik demi memastikan anak-anak Indonesia—khususnya di Jawa Barat—mendapatkan hak perlindungan kesehatan secara optimal.

Editor : Agung Bakti Sarasa

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut