Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Jembatani Kampus dan Industri, Transfer Teknologi Manufaktur Cerdas Siap Digenjot
Advertisement . Scroll to see content

Panggilan Kemanusiaan dari Kampus Ganesha: Mahasiswa ITB Turun Tangan Bantu Pemulihan Gempa NTT

Kamis, 10 September 2026 | 07:54 WIB
  • author Aga Gustiana
Panggilan Kemanusiaan dari Kampus Ganesha: Mahasiswa ITB Turun Tangan Bantu Pemulihan Gempa NTT
Gandeng Kemendikti, Mahasiswa ITB Perluas Jangkauan Bantuan Pascabencana di Manggarai Timur. (Foto: Ist)

BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Tragedi gempa bumi yang mengguncang kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT) memantik rasa simpati mendalam dari kalangan akademisi. Lewat payung gerakan ITB Peduli NTT, barisan mahasiswa Institut Teknologi Bandung tidak sekadar berpangku tangan. Mereka bergerak masif, mulai dari urun dana di selasar kampus hingga terjun langsung ke jantung lokasi bencana.

Cikal Bakal Gerakan

Langkah awal gerakan ini dimotori oleh Kementerian Koordinator Sosial Masyarakat (Kemenko Sosmas) KM ITB. Mereka bergerak cepat merangkul elemen rektorat dan Rumah Amal Salman untuk mematangkan rencana tanggap darurat.

Presiden KM ITB, Nahdah Nabillah, menegaskan bahwa aksi ini lahir murni dari kesadaran kolektif para mahasiswa.

“Berawal dari inisiasi Kemenko Sosmas KM ITB yang kemudian berkomunikasi dengan pihak-pihak lain di ITB di level rektorat dan juga Rumah Amal Salman. Dorongan terbesar tentunya karena panggilan kemanusiaan, khususnya bagi mahasiswa-mahasiswa ITB yang merupakan bagian dari masyarakat itu sendiri sehingga kepedulian bertransformasi jadi aksi nyata yang perlu diwujudkan dalam kontribusi langsung membersamai saudara-saudara di NTT,” ujar Nahdah.

Kolaborasi Lintas Ormawa

Solidaritas ini menjalar cepat ke berbagai organisasi mahasiswa (ormawa) di lingkungan kampus. KM ITB mengambil peran sebagai jembatan yang mengakomodasi seluruh donasi agar distribusinya lebih terarah.

Kemenko Sosmas KM ITB, Arfa, menyebutkan betapa antusiasnya berbagai elemen kampus dalam misi kemanusiaan ini.

“Inisiatif dari stakeholder ormawa terkait penggalangan dana pun dapat dirasakan. Keterlibatan KM ITB di ITB Peduli kami jadikan sebagai wadah bagi ormawa untuk menyalurkan bantuan yang telah dikumpulkan dari anggotanya masing-masing,” ungkap Arfa.

Sebagai langkah strategis, lima perwakilan KM ITB juga ditugaskan mendampingi Prof. Brian Yuliarto meninjau lokasi. Misi mereka jelas: memetakan kebutuhan mendesak para korban dan menjalin sinergi dengan BEM kampus-kampus lokal di NTT.

Bukti Nyata di Lokasi Bencana

Bantuan tak berhenti pada deretan angka donasi. Mahasiswa yang tergabung dalam Tim ITB Peduli NTT Kloter 2 langsung bertolak ke Kabupaten Manggarai Timur. Hingga penghujung Agustus 2026, tim ini sukses mendirikan tiga Instalasi Pengolahan Air (IPA) di titik-titik krusial seperti RS Lapangan Dampek serta kamp pengungsian Pota dan Ronting.

Di Ronting, Desa Satar Kampas, relawan mahasiswa juga merampungkan 21 unit shelter komunal dan keluarga. Menariknya, warga lokal turut dilibatkan dalam proses pembangunan agar mereka memiliki kemandirian dalam fase rekonstruksi pascabencana.

Realita Pilu dan Ketegaran Warga

Menjejakkan kaki langsung di area terdampak membuka mata para relawan. Asa, salah satu mahasiswa di Kloter 2, bersaksi betapa luluh lantaknya infrastruktur di sana. Warga harus bertahan dengan fasilitas MCK seadanya dan mengandalkan dapur umum komunal untuk mengisi perut.

Namun, di balik duka kehilangan harta benda, Asa melihat ketangguhan luar biasa dari para penyintas.

“Warganya ramah-ramah banget. Jujur, aku sangat merasakan vibes kampung yang rukun dan suasananya hidup karena banyak anak-anak juga. Tapi, di sini sering banget gempa sampai sekarang, bisa sampai lima kali sehari dan gempanya terasa banget,” ujar Asa.

Trauma masih membayangi warga, membuat mereka enggan kembali ke rumah yang tersisa. Karena itulah, pendirian puskesmas darurat dan tenda pengungsian menjadi fokus utama relawan di lapangan. Pertukaran ilmu pun terjadi secara organik; mahasiswa membawa solusi teknis dan akademis, sementara warga lokal membagikan pemahaman terkait kearifan setempat.

Rantai Solidaritas yang Terus Menyambung

Rantai kebaikan ini dipastikan tak akan terputus. Dalam waktu dekat, pengiriman rombongan lanjutan segera dieksekusi melalui sinergi dengan program Aksara Mahasiswa Berdampak Kemendikti. Fokus utamanya masih sama: mempercepat suplai bantuan logistik dan merampungkan hunian sementara bagi para korban. Gerakan ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian kampus mampu mewujud menjadi pelita bagi mereka yang tengah dirundung duka.

Editor: Agung Bakti Sarasa

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut