Bukan Sekadar Muskernas! Pemuda Persis Siapkan Kader Jadi Penggerak Perubahan Zaman
BANDUNG, iNewsBandungRaya.id – Gedung Merdeka Bandung kembali menjadi ruang bagi lahirnya gagasan tentang masa depan. Kali ini, Pimpinan Pusat Pemuda Persatuan Islam (Pemuda Persis) menggelar Musyawarah Kerja Nasional (Muskernas) I Masa Jihad 2026–2031, Sabtu (12/9/2026).
Mengusung tema “Transformasi Gerakan Membangun Episentrum Dakwah Peradaban”, Muskernas I Pemuda Persis tidak hanya menjadi forum penyusunan program kerja organisasi. Lebih dari itu, pertemuan tersebut menjadi momentum untuk menegaskan kembali arah perjuangan, identitas kader, dan masa depan gerakan Pemuda Persis.
Pemilihan Gedung Merdeka sebagai lokasi Muskernas pun memiliki makna tersendiri.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Persis, Hilman Rasyid, M.Pd., menilai Gedung Merdeka bukan sekadar bangunan bersejarah. Tempat tersebut merupakan simbol keberanian bangsa-bangsa untuk menentukan masa depan dan menolak menjadi sekadar pengikut arus perubahan.
“Gedung ini bukan hanya sekadar bangunan tua berbahan batu dan semen, melainkan gedung ini adalah sebuah monumen hidup tentang keberanian pemuda dan juga para pemimpin dunia pada saat itu,” ujar Hilman dalam sambutannya.
Dari Semangat Dasasila Bandung ke Gerakan Pemuda Persis
Hilman mengingatkan kembali sejarah Gedung Merdeka yang menjadi bagian penting dari Konferensi Asia-Afrika 1955.
Di tempat tersebut, para pemimpin negara Asia dan Afrika membawa semangat perjuangan melawan kolonialisme sekaligus memperjuangkan hak bangsa-bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri.
Bagi Hilman, semangat tersebut masih relevan untuk generasi muda saat ini. Bentuk perjuangan memang berubah, tetapi keberanian untuk menentukan arah perubahan tetap dibutuhkan.
“Gedung Merdeka ini menjadi simbol, simbol keberanian untuk memimpin perubahan global, untuk menolak menjadi pengekor, dan siap berdiri tegak sebagai pilar peradaban,” tegasnya.
Pesan itu kemudian diarahkan kepada kader Pemuda Persis.
Jika generasi terdahulu berhadapan dengan kolonialisme dalam bentuk penjajahan fisik, generasi hari ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks. Perubahan teknologi, pergeseran nilai sosial, krisis kesehatan mental, persoalan kemandirian ekonomi, hingga krisis moralitas anak muda menjadi tantangan baru yang harus dijawab gerakan kepemudaan Islam.
Pemuda Persis Didorong Melakukan Tajdid Syamil
Menghadapi perubahan tersebut, Hilman menilai Pemuda Persis tidak cukup hanya mempertahankan pola gerakan yang sudah ada.
Dibutuhkan pembaruan yang menyeluruh atau Tajdid Syamil, yakni pembaruan yang mampu menjawab persoalan zaman tanpa kehilangan pijakan nilai.
“Pemuda Persis hari ini dituntut untuk menghadirkan sebuah pembaharuan yang komprehensif, sebuah pembaharuan yang menyeluruh, yang oleh para ahli disebut sebagai Tajdid Syamil,” tuturnya.
Bagi Hilman, pembaruan bukan berarti meninggalkan akar perjuangan. Sebaliknya, perubahan harus dilakukan dengan tetap menjadikan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai landasan gerakan.
Karena itu, Muskernas I Pemuda Persis diharapkan tidak hanya menghasilkan daftar program kerja, tetapi juga memperkuat cara berpikir kader dalam menghadapi tantangan zaman.
Menghidupkan Kembali Makna Khairu Ummah
Dalam konteks tersebut, Hilman mengajak kader Pemuda Persis kembali melihat makna khairu ummah sebagaimana disebutkan dalam QS Ali 'Imran ayat 110.
Ayat tersebut berbunyi:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
Menurut Hilman, predikat umat terbaik bukanlah sebuah gelar yang diberikan tanpa tanggung jawab. Ada amanah besar yang harus diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Ia menjelaskan tiga prinsip utama dalam ayat tersebut, yakni iman kepada Allah (tu'minuuna billah) sebagai jangkar spiritual, amar makruf sebagai tindakan menghadirkan kebaikan di ruang publik, serta nahi munkar sebagai upaya mencegah kerusakan moral.
Ketiga prinsip tersebut, menurutnya, harus diterjemahkan menjadi gerakan nyata Pemuda Persis.
“Redaksi ukhrijat lin-naas juga dalam ayat ini menjadi cetak biru bagi pergerakan Pemuda Persis,” katanya.
Artinya, kader Pemuda Persis tidak cukup hanya menjadi pribadi yang saleh secara individual. Mereka juga dituntut menghadirkan manfaat bagi masyarakat, berkhidmat kepada umat, serta mengambil bagian dalam membangun kehidupan sosial yang lebih baik.
Khittah Menjadi Kompas Perjuangan Pemuda Persis
Untuk memastikan gerakan tetap berada pada jalurnya, Hilman menempatkan khittah Pemuda Persis sebagai bagian penting dalam perjalanan organisasi.
Khittah menjadi garis perjuangan yang menjaga identitas, arah dakwah, serta kaderisasi Pemuda Persis agar tetap berlandaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah.
“Khittah ini adalah jangkar yang menjaga kapal dakwah Pemuda Persis ini tetap stabil dalam mengarungi gelombang zaman hari ini,” ujar Hilman.
Menurutnya, gerakan tanpa khittah berisiko kehilangan ruh perjuangan. Organisasi bahkan dapat terjebak pada orientasi popularitas semata dan meninggalkan nilai yang menjadi fondasi awal perjuangannya.
Karena itu, masa depan Pemuda Persis tidak cukup hanya dibangun dengan mengandalkan kejayaan sejarah.
“Masa depan jam'iyyah kita hari ini itu tidak diwariskan. Masa depan jam'iyyah Pemuda Persatuan Islam itu harus dirancang, harus diperjuangkan dalam kebersamaan,” tegasnya.
Pemuda Persis dan Tantangan Menjadi Arsitek Peradaban
Gagasan tentang masa depan tersebut kemudian bermuara pada satu pesan utama: kader Pemuda Persis harus mampu menjadi arsitek peradaban.
Istilah tersebut tidak dimaknai sebagai sekadar slogan. Hilman menekankan bahwa kader harus memiliki keberanian untuk merancang masa depan, memahami persoalan masyarakat, sekaligus menerjemahkan nilai dakwah ke dalam tindakan nyata.
Kejayaan organisasi, menurutnya, tidak akan lahir hanya dari romantisme terhadap masa lalu.
Sebaliknya, sejarah harus menjadi energi untuk menciptakan karya baru yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Karena itu, kader Pemuda Persis dituntut tidak hanya menjadi penonton perubahan, tetapi ikut menentukan arah perubahan tersebut.
Muskernas I Pemuda Persis Tak Boleh Berhenti di Atas Kertas
Pesan tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi pelaksanaan Muskernas I Masa Jihad 2026–2031.
Hilman menegaskan, forum nasional tersebut tidak boleh berhenti pada kesepakatan normatif maupun menghasilkan tumpukan program kerja di atas kertas.
Setiap gagasan harus diterjemahkan menjadi program yang nyata, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Muskernas ini adalah ruang untuk menghadirkan kembali, untuk menerjemahkan kembali khittah gerakan kita, untuk menerjemahkan kembali visi gerakan kita, sehingga kita membuat sebuah program nasional yang nyata, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah,” pungkasnya.
Dari Gedung Merdeka, Pemuda Persis membawa kembali semangat yang pernah mengiringi lahirnya Dasasila Bandung: keberanian untuk menentukan arah dan tidak menjadi pengekor.
Bedanya, medan perjuangan generasi hari ini bukan lagi medan kolonialisme fisik. Tantangannya hadir dalam bentuk disrupsi teknologi, perubahan sosial, krisis moral, hingga persoalan ekonomi dan kesehatan mental generasi muda.
Di tengah perubahan tersebut, Muskernas I Pemuda Persis menjadi momentum untuk merumuskan langkah baru.
Bukan sekadar mempertahankan organisasi, tetapi membangun gerakan yang mampu membaca zaman, tetap berakar pada Al-Qur'an dan As-Sunnah, serta melahirkan kader yang siap mengambil peran sebagai arsitek peradaban.
Editor: Rizal Fadillah