Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Dosen PPPK Temui DPR, Ungkap Masalah Serius Soal Karier dan Tunjangan
Advertisement . Scroll to see content

Pemuda Bandung Didorong Jangan Takut Berbeda, Ini Cara Hadapi Konflik dan Cari Solusi

Selasa, 29 September 2026 | 14:06 WIB
  • author Susana
Pemuda Bandung Didorong Jangan Takut Berbeda, Ini Cara Hadapi Konflik dan Cari Solusi
Anggota MPR RI Ledia Hanifa Amaliah. Foto: Ist.

BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Anggota MPR RI Ledia Hanifa Amaliah mendorong generasi muda untuk tidak sekadar mempersiapkan diri menjadi pemimpin di masa depan, tetapi mulai mengambil peran dan berkontribusi sejak sekarang.

Pesan tersebut disampaikan Ledia saat menggelar Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di hadapan ratusan pemuda dari Kota Bandung, Kota Cimahi, serta pegiat Averroes Community. Kegiatan berlangsung di Gedung Kolabora Kebaikan, Kota Bandung, pada 27 September 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Ledia membuka paparannya dengan pertanyaan mengenai alasan pemuda perlu bergerak bersama.

Menurutnya, generasi muda merupakan salah satu komponen bangsa yang memiliki potensi besar untuk membawa perubahan. Karena itu, kesempatan untuk belajar memimpin tidak semestinya baru dimulai ketika seseorang telah memasuki usia atau posisi tertentu.

“Anak-anak muda itu bukan pemimpin masa depan. Sesungguhnya anak muda itu adalah pemimpin hari ini dan masa depan,” kata Ledia.

Pemuda Perlu Mulai Memimpin dari Sekarang

Ledia mengatakan kemampuan menjadi pemimpin tidak dapat muncul secara tiba-tiba. Pengalaman, keberanian mengambil keputusan, kemampuan bekerja sama, hingga menghadapi persoalan perlu dibangun sejak dini.

Ia menilai keterlibatan anak muda dalam komunitas menjadi salah satu ruang untuk mengasah kemampuan tersebut.

Menurut Ledia, seorang anak muda akan sulit mempersiapkan diri sebagai pemimpin masa depan apabila sejak hari ini tidak diberikan kesempatan ataupun berupaya mencari kesempatan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan.

Karena itu, aktivitas berjejaring melalui komunitas dinilai dapat menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal persoalan sosial sekaligus belajar mengambil peran.

“Dengan berjejaring di komunitas, itu adalah kesempatan besar untuk belajar menjadi pemimpin hari ini,” ujarnya.

Jejaring Anak Muda Bisa Membuka Banyak Kesempatan

Ledia juga mengingatkan bahwa semakin luas jaringan pertemanan yang dibangun anak muda, semakin besar pula peluang untuk menciptakan kolaborasi.

Jejaring tersebut tidak hanya bermanfaat bagi pengembangan diri, tetapi juga dapat membuka ruang kontribusi bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

Ia menyebut berbagai kesempatan bagi generasi muda juga telah dijamin dalam konstitusi, mulai dari hak memperoleh pendidikan hingga kesempatan untuk hidup mandiri dan mendapatkan pekerjaan.

“Anak muda punya kesempatan untuk bisa mendapatkan pendidikan, bisa mandiri, bisa mendapat pekerjaan, hingga membangun keluarga,” kata Ledia.

Menurutnya, kesempatan tersebut perlu diikuti dengan kesiapan anak muda untuk mengembangkan kemampuan dan membangun relasi yang sehat.

Dengan demikian, komunitas tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga dapat menjadi ruang belajar, bertukar gagasan, serta membangun kegiatan yang memberikan manfaat lebih luas.

Perbedaan dalam Komunitas Bukan Alasan untuk Berhenti

Dalam kehidupan organisasi maupun komunitas, Ledia menyadari adanya dinamika yang tidak selalu berjalan mulus.

Perbedaan pendapat, pandangan, hingga konflik merupakan hal yang dapat muncul ketika banyak orang dengan latar belakang berbeda bekerja dalam satu kelompok.

Namun, menurutnya, perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghentikan gerakan bersama.

Ledia mengaitkan kondisi tersebut dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika, yang menempatkan keberagaman sebagai bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Tidak usah khawatir dengan hambatan, perbedaan bahkan masalah. Tapi yang perlu dilakukan adalah bagaimana kita bisa menyiapkan problem solving,” ujarnya.

Ia mendorong anak muda untuk memiliki kemampuan mencari solusi ketika menghadapi persoalan dalam organisasi maupun komunitas.

Kemampuan menyelesaikan masalah, menurut Ledia, justru menjadi bagian penting dalam proses belajar menjadi pemimpin.

Nilai 4 Pilar MPR RI dalam Gerakan Pemuda

Dalam kegiatan tersebut, Ledia juga menghubungkan aktivitas positif generasi muda dengan nilai-nilai yang terkandung dalam 4 Pilar MPR RI.

Kebersamaan dan keberagaman yang dibangun dalam komunitas dinilai dapat menjadi bagian dari praktik nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, semangat menjaga persatuan di tengah perbedaan juga berkaitan dengan nilai Bhinneka Tunggal Ika dan komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Menurut Ledia, gerakan pemuda yang positif dan memberikan kontribusi kepada masyarakat merupakan salah satu bentuk penerapan nilai kebangsaan dalam kehidupan nyata.

Karena itu, ia mengajak generasi muda tidak berhenti pada kegiatan internal komunitas, tetapi terus mengembangkan aktivitas yang memberikan manfaat bagi lingkungan yang lebih luas.

Ledia Apresiasi Pemuda Averroes Community

Ledia juga menyampaikan apresiasi kepada para pemuda yang tergabung dalam Averroes Community.

Di tengah kesibukan menjalani perkuliahan maupun mencari pekerjaan, para pemuda tersebut masih menyempatkan diri untuk aktif dalam kegiatan komunitas dan membangun jejaring.

Menurut Ledia, keterlibatan tersebut merupakan modal penting bagi anak muda untuk mengembangkan pengalaman sosial sekaligus kemampuan bekerja bersama.

Ia pun mengajak Averroes Community memperluas jaringan dengan menjalin kolaborasi bersama berbagai organisasi dan lembaga lainnya.

“Banyak hal yang bisa dilakukan bersama, ada banyak kebaikan yang bisa dibangun bersama,” ujarnya.

Ledia berharap semangat berjejaring tersebut terus berkembang sehingga komunitas pemuda tidak hanya menjadi ruang berkumpul, tetapi juga menjadi wadah lahirnya berbagai kegiatan positif dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Bagi generasi muda, menurutnya, menjadi pemimpin tidak harus menunggu masa depan. Proses tersebut dapat dimulai dari keberanian mengambil peran, membangun jejaring, menghadapi perbedaan, dan menciptakan solusi sejak hari ini.

Editor: Rizal Fadillah

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut