Tren Loud Budgeting: Seni Berani Berhemat demi Masa Depan

Deni Mulyana
Di tengah gempuran budaya konsumerisme dan tren flexing di media sosial, muncul sebuah fenomena baru yang disebut dengan Loud Budgeting. (ilustrasi)

BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Di tengah gempuran budaya konsumerisme dan tren flexing di media sosial, muncul sebuah fenomena baru yang disebut dengan Loud Budgeting. 

Tren ini pertama kali viral melalui platform TikTok dan dengan cepat menjadi referensi finansial baru bagi Generasi Z dan Milenial. Berbeda dengan metode penghematan tradisional yang sering kali terkesan pelit, loud budgeting justru dilakukan secara vokal dan penuh kebanggaan.

Secara sederhana, loud budgeting adalah tindakan menyatakan secara terbuka bahwa seseorang sedang memprioritaskan tujuan keuangan jangka panjang di atas keinginan sesaat. Hal ini merupakan bentuk perlawanan terhadap tekanan sosial atau Fear of Missing Out (FOMO). Seperti yang dilakukan seorang karyawan BUMN asal Bandung, Aji (28), yang dengan tegas menyuarakan keinginannya untuk menabung demi rumah impian.

“Dulu saya malu menolak ajakan nongkrong mahal. Sekarang, saya lebih berani bilang, 'Aku tidak bisa ikut malam ini karena sedang fokus tabung emas untuk DP rumah'. Hasilnya, bulan ini saya bisa menabung emas lebih dari satu gram. Rasanya lebih melegakan,” ungkap Aji.

 

Normalisasi Kondisi Keuangan
Loud budgeting dianggap sebagai langkah revolusioner karena menggerus stigma sosial dan menormalisasi kondisi keuangan yang terbatas demi rencana masa depan. Tren ini mendorong value-based spending, di mana anggaran dialihkan dari pengeluaran impulsif -seperti kopi mahal harian- ke aset produktif seperti emas dan saham.

Menanggapi fenomena ini, Pemimpin Wilayah PT Pegadaian Kantor Wilayah X Jabar Dede Kurniawan melihat bahwa masyarakat Jabar, khususnya anak muda mulai menunjukkan perubahan perilaku keuangan yang signifikan ke arah positif.

"Kami melihat loud budgeting bukan sekadar tren sesaat, melainkan momentum bagi masyarakat Jawa Barat untuk lebih jujur terhadap kapasitas finansialnya. Di wilayah kerja kami, kesadaran untuk mengalihkan gaya hidup konsumtif ke investasi riil seperti emas terus meningkat. Emas tetap menjadi primadona karena sifatnya yang likuid dan tahan inflasi," ujar Dede Kurniawan.

Dede menjelaskan, masyarakat tidak perlu ragu untuk memulai investasi meskipun dengan nominal kecil. "Tidak perlu menunggu punya dana besar. Prinsip loud budgeting adalah konsistensi dari hal-hal kecil yang disuarakan dan dilakukan dengan bangga," tegasnya.

 

Dukungan Korporasi dan Pertumbuhan Nasabah Muda
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Perusahaan PT Pegadaian, Dwi Hadi Atmaka menyampaikan bahwa menabung emas sangat cocok bagi penganut loud budgeting.

“Sederhananya, ini adalah pola shifting dari habit konsumtif menjadi produktif. Data per Desember 2025 menunjukkan lonjakan nasabah muda di Pegadaian secara nasional; Millennial tumbuh 49%, sementara Gen Z meningkat hingga 116%. Melalui aplikasi Tring! by Pegadaian, masyarakat dapat menabung mulai dari Rp10 ribu saja,” ungkap sosok yang akrab disapa Aat tersebut.

Dengan hadirnya platform digital seperti Tring!, proses loud budgeting menjadi semakin mudah. Masyarakat Jabar kini dapat memantau pertumbuhan aset emas mereka secara real-time dalam genggaman.

Konsistensi dalam menerapkan metode ini diharapkan tidak hanya membantu menghemat pengeluaran, tetapi juga membangun fondasi keuangan yang kokoh bagi masa depan generasi muda. (*)

Editor : Abdul Basir

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network