“Kalau capek ya di masjid, kadang di emper toko. Tapi pernah juga disangka yang bukan-bukan,” ujarnya.
Meski perjalanan panjang masih harus ditempuh, Asep tetap menyimpan harapan sederhana, bisa segera sampai di kampung halaman dan berkumpul dengan keluarga.
“Kalau jalan terus bisa sampai pagi. Tapi semoga ada truk yang ngasih tumpangan,” katanya.
Di balik langkah kakinya yang terus bergerak, tersimpan kisah tentang keterbatasan dan keteguhan bahwa bagi sebagian orang, mudik bukan sekadar perjalanan pulang, melainkan perjuangan yang harus ditempuh selangkah demi selangkah.
Editor : Rizal Fadillah
Artikel Terkait
