Didukung Satkar Ulama, Daniel Mutaqien Dinilai Layak Pimpin Golkar Jabar

Susana
Daniel Mutaqien Syafiuddin. Foto: Ist.

BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Menjelang momentum regenerasi kepemimpinan di tubuh DPD Partai Golkar Jawa Barat, kebutuhan akan figur pemimpin yang tidak hanya populer tetapi juga memiliki kapasitas ideologis dan teknokratis semakin menguat.

Nama Daniel Mutaqien Syafiuddin (DMS) dinilai sebagai sosok paling representatif untuk memimpin Golkar Jawa Barat menuju kemenangan politik di masa depan.

Dukungan Satkar Ulama untuk Daniel Mutaqien

Dukungan terhadap Daniel Mutaqien datang dari Ketua Satkar Ulama Indonesia Provinsi Jawa Barat, M. Sahrul Fadli.

Ia menegaskan bahwa kepemimpinan di Jawa Barat membutuhkan kombinasi kecerdasan (fathanah) dan kesinambungan sejarah perjuangan.

“Kang Daniel memiliki nasab perjuangan yang jelas dari almarhum Irianto MS Syafiuddin dan Anna Sophanah. Beliau mampu menjaga marwah partai sekaligus merangkul aspirasi umat dan ulama dengan gaya komunikasi santun namun tegas,” ujar Sahrul.

Tiga Pilar Kekuatan Daniel Mutaqien

Dukungan terhadap Daniel Mutaqien didasarkan pada tiga pilar utama:

  • Energi Muda yang adaptif terhadap perubahan zaman
  • Rekam Jejak Teruji di parlemen dan organisasi
  • Nasab Perjuangan yang menjadi legitimasi moral di masyarakat

Ketiga faktor ini dinilai menjadi kombinasi ideal untuk membawa Golkar Jawa Barat tetap relevan dan kompetitif.

Analisis Kepemimpinan: Pendekatan Teoritis

Secara akademik, pencalonan Daniel Mutaqien juga dapat dijelaskan melalui sejumlah teori kepemimpinan modern:

1. Teori Modal Sosial (Social Capital)

Mengacu pada pemikiran Pierre Bourdieu, modal sosial warisan atau inherited social capital menjadi faktor penting dalam legitimasi politik.

Daniel dinilai memiliki “nasab perjuangan” yang bukan sekadar garis keturunan, tetapi juga transmisi nilai, habitus, dan pengalaman politik dari pendahulunya.

2. Teori Kepemimpinan Adaptif (Adaptive Leadership)

Menurut Ronald Heifetz, pemimpin modern harus mampu beradaptasi di tengah disrupsi dan perubahan sosial.

Sebagai figur muda, Daniel dinilai memiliki fleksibilitas untuk menjangkau pemilih milenial dan Gen Z, sekaligus menerjemahkan nilai-nilai partai ke dalam konteks kekinian.

3. Teori Sirkulasi Elit (Circulation of Elites)

Berdasarkan teori Vilfredo Pareto, organisasi politik membutuhkan regenerasi elit agar tetap stabil dan tidak stagnan.

Kehadiran Daniel dianggap sebagai bentuk pembaruan yang menjaga daya saing Golkar dalam dinamika politik nasional.

Sosok Penghubung Tradisi dan Modernitas

Menurut Sahrul Fadli, kepemimpinan Daniel Mutaqien merupakan titik temu antara tradisi dan modernitas.

“Ia bukan sekadar pewaris, tetapi petarung politik dengan kompetensi nyata. Kepemimpinannya adalah keniscayaan sejarah bagi Golkar Jawa Barat,” pungkasnya.

Dengan latar belakang politik yang kuat serta dukungan berbagai elemen, Daniel Mutaqien kini menjadi salah satu kandidat terkuat dalam bursa kepemimpinan Golkar Jawa Barat.

Editor : Rizal Fadillah

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network