Menjaga Marwah Pendidikan dari Orientasi Bisnis
Lebih lanjut, politisi tersebut melontarkan peringatan keras agar para penyelenggara pendidikan tinggi tidak menjadikan institusi akademik sebagai ladang bisnis komersial semata. Bagi Cucun, marwah lembaga pendidikan harus dikembalikan pada fungsi utamanya, yakni melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan berintegritas.
“Jangan ada satupun dalam dunia pendidikan mau berpikir bahwa ini profit. Dunia pendidikan itu betul-betul kita punya tujuan mencetak anak-anak bangsa ini, mencerdaskan kehidupan bangsa,” tegasnya.
Ia meyakini bahwa kalkulasi bisnis dan orientasi meraup keuntungan finansial hanya akan merusak esensi dari pendidikan itu sendiri, serta menjauhkan institusi dari misi sosialnya.
“Kalau misalkan sudah berpikir mau cari untung atau segala macam, pasti yang namanya dunia pendidikan tidak akan benar,” ucap Cucun.
Akses Beasiswa dan KIP Kuliah Tetap Menjadi Prioritas
Di tengah upaya restrukturisasi tata kelola, jaminan aksesibilitas pendidikan bagi masyarakat luas tetap menjadi perhatian utama. Cucun memastikan bahwa pintu perguruan tinggi ini tetap terbuka lebar bagi seluruh kalangan, terutama melalui dukungan finansial dan program bantuan pemerintah seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.
“Masih banyak beasiswa, kehadiran negara melalui KIP Kuliah juga banyak. Yang reguler juga banyak,” jelasnya.
Selain fasilitas dari pemerintah pusat, mahasiswa Universitas Bandung juga memiliki peluang untuk mengakses berbagai alternatif pembiayaan pendidikan lainnya, termasuk menggandeng sektor swasta dan korporasi.
“Termasuk skema-skema beasiswa lain, termasuk beasiswa dari Freipad, dari swasta juga banyak yang kita hadirkan di Universitas Bandung,” pungkasnya.
Editor : Agung Bakti Sarasa
Artikel Terkait
