Hasil Studi Ungkap Rasio Utang Pengguna Kredit Digital Hanya 10-19% dari Income

Adi Haryanto
Wakil Kepala Bidang Penelitian dan Pelatihan Lembaga Demografi FEB UI, Paksi Walandouw (kanan) dan Head of Marketing Kredivo, Indina Andamari, memaparkan studi kredit digital yang kini jadi bagian dari infrastruktur keuangan di masyarakat. Foto/Istimewa

BANDUNG,iNews BandungRaya.id - Mudahnya akses masyarakat terhadap kredit digital mendongkrak perputaran uang dan juga berdampak terhadap sektor ekonomi.

Hal tersebut tercermin dari Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo yang disusun Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) bersama Kredivo Group.

Co-Founder & Presiden Direktur Kredivo Indonesia, Umang Rustagi mengatakan, studi bersama LD FEB UI menunjukkan kontribusi industri kredit digital kini tidak hanya diukur dari besarnya penyaluran kredit, tetapi juga dari dampak sosial dan ekonomi yang dihasilkan.

“Sepuluh tahun lalu, Kredivo Group hadir di tengah kesenjangan kredit yang luas, dengan visi menjembatani akses masyarakat terhadap layanan kredit yang mudah, cepat, dan terjangkau. Sejak saat itu, kami tumbuh bersama jutaan pengguna, merchant, dan mitra untuk tidak hanya membuka akses namun juga untuk memberdayakan secara sosial dan ekonomi," kata Umang dalam keterangannya, Rabu (30/9/2026).

Berdasarkan studi, rata-rata Debt-to-Income Ratio atau rasio utang terhadap pendapatan pengguna Kredivo yang berada di kisaran 10–19% dari total pendapatan, atau tergolong sangat aman.

Studi tersebut juga mencatat 58,7% pengguna yang teraktivasi dan bertransaksi pada 2023 memperoleh kenaikan limit berkat rekam jejak pembayaran yang disiplin, sementara 65,7% pengguna tergolong well-literate secara finansial.

Akses kredit yang dihadirkan melalui layanan PayLater dan Pinjaman Tunai dari KrediFazz tidak hanya memperluas akses terhadap kredit formal, tetapi juga turut mendorong pemanfaatan kredit untuk kebutuhan yang lebih produktif serta pemberdayaan UMKM.

Menurutnya, studi bersama LD FEB UI menunjukkan Kredivo membantu menjembatani kesenjangan akses kredit formal. Pada 2025, jumlah pengguna yang memperoleh akses kredit pertama melalui Kredivo meningkat 10 kali lipat dibandingkan 2019.

Dari temuan tersebut, 48% di antaranya perempuan dan 57% berusia di bawah 30 tahun, yaitu dua kelompok yang secara historis sulit terjangkau layanan kredit karena minimnya riwayatkeuangan.

Selain itu, ada sebanyak 23% pengguna mengaku Kredivo mempermudah akses mereka ke layanan kredit formal lainnya. Di segmen UMKM, 40,6% peminjam modal usaha memperoleh akses kredit usaha pertamanya melalui Kredivo.

Wakil Kepala Bidang Penelitian dan Pelatihan LD FEB UI, Paksi Walandouw mengatakan, perempuan, generasi muda, dan pelaku UMKM merupakan kelompok yang paling sulit dijangkau sistem keuangan formal, namun justru menjadi bagian signifikan dari penerima akses kredit pertama melalui Kredivo.

"Yang terpenting bukan sekadar terbukanya akses, tetapi bagaimana akses tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas ekonomi masyarakat dan pelaku usaha. Di situlah dampak sosial dan ekonomi mulai terbentuk," ucapnya.

Paksi menjelaskan, lebih dari separuh kredit yang disalurkan melalui Kredivo dimanfaatkan untuk kebutuhan produktif, menunjukkan bahwa kredit digital berkembang dari alat pemenuhan kebutuhan jangka pendek menjadi instrumen pembentukan kapasitas ekonomi jangka panjang.

Selama 2025, PayLater Kredivo berkontribusi sebesar 30% terhadap total outstanding PayLater nasional di Februari 2026. Melalui layanan Pinjaman Tunai, Kredivo juga menyumbang sekitar 30% dari total nilai outstanding dan 20% dari total akun pengguna fintech lending nasional di Desember 2025.

Di luar skala bisnisnya, studi ini juga menunjukkan dampak ekonomi yang dihasilkan Kredivo. Pada 2025, Kredivo berkontribusi sekitar Rp33 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, meningkat hampir 10 kali lipat dibandingkan 2019.

Di sisi UMKM, 96,9% peminjam modal usaha merupakan pelaku usaha mikro dan 34% di antaranya mengalami peningkatan omzet sebesar 10–40%.

Dampak tersebut diperkuat oleh jaringan merchant yang tumbuh 16 kali lipat sejak 2019 dan kini menjangkau 446 kabupaten/kota, terutama di wilayah tier 2 dan 3.

Sementara itu Head of Marketing Kredivo, Indina Andamari menambahkan, pihaknya memandang PayLater sebagai titik awal bagi masyarakat untuk membangun reputasi finansialnya.

Fokusnya adalah memastikan akses tersebut dimanfaatkan secara bertanggung jawab melalui edukasi, inovasi produk, dan praktik penyaluran kredit yang prudent.

"Ketika akses diikuti perilaku finansial yang sehat, manfaatnya dapat dirasakan dalam peluang ekonomi yang semakin luas bagi pengguna," jelasnya.

Studi juga menunjukkan meningkatnya pemanfaatan kredit untuk kebutuhan produktif. Porsi kredit produktif yang disalurkan melalui Kredivo meningkat dari 52,3% pada 2019 menjadi 54,3% pada 2025, mencakup kebutuhan kesehatan, pendidikan, renovasi rumah, dan modal usaha.

Dalam periode yang sama, jumlah pengguna yang memanfaatkan kredit sebagai modal usaha meningkat 15 kali lipat.

"Bagi kami, keberhasilan Kredivo tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari seberapa jauh akses pembiayaan yang kami hadirkan dapat menciptakan manfaat ekonomi yang nyata," tuturnya. (*)

Editor : Rizki Maulana

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network