Sekolah di KBB Disegel Ahli Waris, Ratusan Siswa SD Telantar

Rizal Fadillah
.
Selasa, 09 Agustus 2022 | 13:03 WIB
SD Negeri Bunisari di Desa Gadobangkong, Kecamatan Ngamprah, KBB disegel ahli waris pemilik lahan. (Foto: iNews.id/Adi Haryanto)

BANDUNG BARAT, INEWSBANDUNGRAYA - Ratusan siswa di SD Negeri Bunisari, Desa Gadobangkong, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB) tidak bisa mengikuti kegiatan belajar di ruang kelas. Hal itu disebabkan, gerbang sekolah mereka dilas dan dikunci oleh ahli waris pemilik lahan.

Menurut informasi, seorang yang mengaku ahli waris mengelas gerbang SD Negeri Bunisari tersebut. Aksi penguncian gerbang masuk ke sekolah ini dikarenakan persoalan lahan yang diklaim ahli waris atas nama Nana Rumantana.

Lahan seluas 700 meter persegi itu ditempati ruang kelas yang dipergunakan belajar oleh siswa kelas 1 (A, B, C), kelas 2 (A, B, C), dan kelas 4 (A, B, C) dengan total ruangan 9 kelas.

Di pintu gerbang masuk sekolah yang digembok ahli waris terdapat surat pengumuman yang berisi tentang surat keterangan kepala desa nomor 100/387/2009.DS/IX/Pem, berdasarkan akta jual beli Nomor 73/pdl/1970 tanggal 20 Januari 1970 yang dikeluarkan oleh PPATS/Camat Kecamatan Padalarang Sutisna Ariana.

Dalam surat tersebut ditulis, bahwa objek tanah seluas, kurang lebih 700 meter persegi Nomor Pasal 89 kelas D II Nomor Cohir 1390 blok Cimareme dengan batas sebelah utara SD Bunisari, sebelah timur dengan solokan, sebelah selatan dengan usup, dan sebelah barat dengan winata, adalah milik Nana Rumantana dan bukan tanah aset milik Pemerintah Desa Gadobangkong.

"Aksi penutupan gerbang masuk ke sekolah ini tanpa pemberitahuan dulu dari ahli waris. Jadi tadi pagi pas siswa mau belajar gak bisa," kata Guru Agama SD Bunisari, Muhamad Satori, Senin (8/8/2022).

Menurut Satori, lahan yang disengketakan itu awalnya milik SD Negeri Lengensari. Namun, sejak tahun 2020 sudah dimerger dengan SD Negeri Bunisari yang berada satu kompleks. Lahan yang ditempati oleh SD Negeri Bunisari seluas 970 meter persegi, sedangkan yang disengekatan dan diklaim oleh ahli waris 700 meter persegi.

"Karena tidak bisa masuk, jadinya sementara aktivitas belajar dihentikan. Opsinya sekolah dilakukan giliran di ruangan kelas tersisa yang masih bisa dipakai sebanyak 8 kelas," jelas Satori seraya menyebut total siswa di selolahnya ada 600 siswa.

Sementara itu, orang tua siswa Karmini (35) mengaku kaget saat mengantar anaknya sekolah tapi tidak bisa masuk karena akses masuk ke ruang kelas yang ada di bagian belakang sekolah ditutup. Hal itu sangat disayangkan karena anaknya dan ratusan siswa lainnya tidak bisa belajar dan harus pulang lagi.

"Gak tau ini ditutupnya kapan, minggu kemarin masih belajar, tapi sekarang mau masuk gak bisa. Kasihan padahal anak lagi semangat buat sekolah," tandasnya.

Editor : Rizal Fadillah
Bagikan Artikel Ini