BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Gubernur Lemhannas RI Tubagus Ace Hasan Syadzily menjadi keynote speaker dalam acara Sawala Budaya ke-44 Paguyuban Pasundan, Sabtu (30/8/2025). Di acara itu, Gubernur Lemhannas RI memberikan materi bertema "Sawala Budaya: Kearifan Lokal Wujudkan Ketahanan Nasional".
Gubernur Lemhannas RI mengatakan, forum ini bukan sekadar wadah musyawarah, melainkan mercusuar peradaban Sunda yang terus menyalakan api kebangsaan sejak 1913. "Selamat atas terselenggaranya Sawala Budaya ke-44 Paguyuban Pasundan," kata Gubernur Lemhannas yang juga menjabat Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar ini.
Kang Ace, sapaan akrab Tubagus Ace Hasan Syadzily menyatakan, kebudayaan merupakan dimensi ketahanan nasional. Seperti dikata Thomas R Dye bahwa bahasa dan budaya merupakan kohesi sosial dalam menjaga ketahanan nasional. Tanpa budaya, bangsa ini akan rapuh, tercerabut dari akarnya, dan mudah dipengaruhi oleh kekuatan asing.
"Seperti yang dinyatakan oleh sastawan almarhum Ajip Rosidi yang mengatakan, "mun urang leungit basa, hartina urang leungit bangsa” (jika kita kehilangan bahasa, berarti kita kehilangan bangsa)," ujar Kang Ace.
Dalam paparannya, Gubernur Lemhannas memuji eksistensi Paguyuban Pasundan sebagai bagian dari denyut kebangsaan, saksi perjuangan kemerdekaan, sekaligus pengawal moralitas dan pendidikan bangsa.
Peran nyata Paguyuban Pasunda antara lain di bidang pendidikan, budaya, dan sosial politik. Di bidang pendidikan, Paguyuban Pasundan menyelenggara pendidikan, mendukung dan mengambangkan program mendirikan Universitas Pasundan (Unpas), Universitas Terbuka, SD, SMP, dan SMA Pasundan.
Paguyuban Pasunda menjaga kebudayaan, denyut seni karawitan, tari tradisi, sastra, hingga falsafah hidup Sunda. Di bidang sosial politik, Paguyuban Pasunda menjadi wadah aspirasi masyarakat Sunda yang konstruktif.
"Peran Sawala Budaya menjaga kedaulatan, merawat persatuan, memastikan, kelangsungan hidup Indonesia di segala bidang kehidupan, benteng kohesi sosial, wujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul, mendukung program pemerintah, mempertahankan nilainilai lokal, dan mewujudkan tujuan nasional," tuturnya.
Dalam paparannya, Kang Ace, juga menyampaikan kondisi dinamika geopolitik dan konstelasi global saat ini yang menjadi tantangan bagi daya tahan serta eksitensi bangsa Indonesia.
Kang Ace mencontohkan dinamika geopolitik global yang terjadi, antara lain, persaingan kekuatan besar, revolusi digital/teknologi informasi yang memunculkan disrupsi budaya. Kemudian, perang dagang dan perang Israel-Palestina, Israel-Iran, dan Rusia-Ukraina.
Dinamika global itu, kata Kang Ace, harus disikapi dengan kewaspadaan bangsa dan memperkokoh ketahanan nasional. Apalagi dengan di tengah perkembangan teknologi informasi saat ini, di mana menyebabkan tidak ada batas antarnegara (borderless), menggeser nasional (ancaman kohesi sosial), konsumsi digital yang tidak terkurasi, dan informasi tanpa batas.
Karena itu, kewaspadaan nasional sangat penting untuk menghadapi perkembangan teknologi digital dan dinamika geopolitik global saat ini.
"Mari kita jaga nyala api semangat Merah Putih, agar senantiasa berkibar megah, bukan hanya di bumi Nusantara, tetapi juga di hati setiap anak bangsa," ucap Kang Ace.
Editor : Agus Warsudi










