Dari Desa Agraris ke Ikon Wisata, Kisah Sukses Situ Cipanten di Kaki Ciremai
BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Di kaki Gunung Ciremai, Desa Gunungkuning, Kecamatan Sindang, Majalengka, perlahan berubah wajah. Dahulu dikenal sebagai desa agraris biasa, kini desa ini menjadi destinasi wisata yang menyuguhkan pengalaman berbeda.
Pusat perubahan ini adalah Situ Cipanten, danau alami dengan air jernih yang kini menjadi ikon unggulan desa berkat inovasi kepala desa, Rudi Yudistira Gozali.
Menurut Rudi, keberadaan Situ Cipanten kini telah menjadi daya tarik wisata yang unik.
“Saya sangat mengapresiasi perkembangan ini. Ke depan, daya tarik ini akan semakin menambah jumlah pengunjung. Alhamdulillah, Situ Cipanten kini mungkin satu-satunya di Indonesia, bahkan dunia, yang ditebari ikan koi premium. Dan ikan ini diberikan langsung oleh Bos Koi, juara dunia,” ujarnya.
Rudi menjelaskan, dari dulu Situ Cipanten sudah mulai dilirik sebagai objek wisata, tapi keterbatasan promosi membuatnya kurang dikenal.
“Sekarang, dengan bantuan media sosial, orang bisa melihat keindahan danau ini dengan cepat. Ini menjadi unggulan di Desa Gunungkuning dan bahkan di Kabupaten Majalengka,” tambahnya.
Target pengunjung pun meningkat signifikan. Pada 2025, Situ Cipanten berhasil menarik sekitar 175 ribu wisatawan. Tahun ini, Rudi menargetkan 300 ribu pengunjung.
“Dengan kehadiran ikan koi, wisatawan bisa memberi makan ikan sambil menikmati suasana sejuk dan nyaman. InsyaAllah, kunjungan akan meningkat lagi,” jelasnya.
Situ Cipanten: Air Jernih yang Menjadi Senyum Warga
Lebih dari sekadar objek wisata, Situ Cipanten memiliki tujuh sumber mata air yang menjadi urat nadi kehidupan warga. Melalui kepemimpinan Rudi, air ini tidak hanya dikomersilkan tetapi dimanfaatkan langsung oleh masyarakat.
720 warga kini menikmati layanan air bersih gratis, hanya membayar biaya pemeliharaan Rp 4.500 per bulan, sehingga mereka bisa hidup sehat dengan biaya sangat terjangkau.
Desa Gunungkuning: Transformasi dan Inovasi
Inovasi Rudi Yudistira tidak berhenti di Situ Cipanten. Ia mendorong warga untuk mengembangkan hortikultura unggulan, menjadikan desa ini pusat pembibitan nasional. Di setiap halaman rumah, bibit tanaman hasil stek dan grafting tumbuh subur, membuktikan bahwa potensi lokal bisa bersinar di tingkat nasional.
Kerja keras Rudi juga membawa pengakuan resmi. Desa Gunungkuning berhasil meraih:
“Kisah Desa Gunungkuning adalah bukti bahwa seorang pemimpin yang memahami rakyatnya mampu mengubah air menjadi kesejahteraan dan tanah menjadi harapan,” tutup Rudi.
Kehadiran Bos Koi dan Irfan Hakim Bawa Kehebohan
Keunikan Situ Cipanten semakin nyata ketika Irfan Hakim, presenter dan pecinta fauna, bersama Hartono Soekwanto alias Bos Koi, hadir langsung di Situ Cipanten.
Puluhan wisatawan tampak antusias menyaksikan aksi mereka, mulai dari berenang di danau, bermain ayunan di tengah air, hingga menebar ikan koi premium.
“Air di sini sangat jernih dan minim bakteri. Inilah alasan saya menitipkan ikan koi berkualitas tinggi,” ujar Bos Koi.
Irfan Hakim menambahkan, “Menjaga Situ Cipanten berarti menjaga sumber kehidupan sekaligus membuka potensi ekonomi kreatif bagi warga Majalengka. Wisata bukan hanya soal hiburan, tapi juga pendidikan dan kesejahteraan.”
Kini, Desa Gunungkuning bukan hanya titik di peta, tapi ikon inspirasi nasional tentang kemandirian desa, pengelolaan wisata, dan inovasi ekonomi lokal.
Situ Cipanten telah menjadi simbol bagaimana alam, kreativitas, dan kepemimpinan bisa bersatu untuk kesejahteraan bersama.
Editor : Rizal Fadillah