get app
inews
Aa Text
Read Next : Pilihan Layanan Perjalanan Ibadah Haji dan Umrah di Bandung Kian Beragam, Permudah Akses Masyarakat

Ustadz Deni Firmansyah: Sosok yang Memilih Lapar Asalkan Anak-anak Tetap Bisa Mengaji

Rabu, 04 Februari 2026 | 09:39 WIB
header img
Ustadz Deni Firmansyah. (Foto: M Rafki)

BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Di sebuah gang sempit di Gg. Abid, tepatnya di Masjid Jami Madrasah Riyadlul Jannah, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung, suara anak-anak mengaji terdengar hampir setiap sore. Di balik lantunan ayat suci itu, Ustadz Deni Firmansyah mengabdikan diri sebagai guru ngaji bagi puluhan anak di lingkungan sekitar, meski kehidupan pribadinya penuh tantangan.

Setiap harinya, Ustadz Deni menjalani dua peran sekaligus: mendidik anak-anak dan berjuang memenuhi kebutuhan keluarga. Tanpa penghasilan tetap, ia menggantungkan hidup dari kerja serabutan.

“Kalau keseharian, sambil saya mengajar ngaji, saya juga dituntut untuk berikhtiar memenuhi kebutuhan keluarga. Caranya ya dengan pekerjaan apa saja yang bisa saya lakukan,” ujar Ustadz Deni saat ditemui di kediamannya, Selasa (3/2/2026).

Pekerjaan itu datang tanpa kepastian. Kadang ia memperbaiki atap bocor, mengecat rumah, atau memasang kanopi selama sepekan penuh. “Alhamdulillah, itulah penghasilan-penghasilan saya. Setelah itu, aktivitas saya kembali lagi mengajar ngaji,” katanya dengan nada sederhana.

Anak-anak yang ia ajar seluruhnya berasal dari lingkungan sekitar masjid. Jumlahnya cukup banyak, mencapai 40–45 anak ketika semua hadir. “Murid-muridnya itu 100 persen anak-anak lingkungan sini. Sekarang kurang lebih sekitar 40 sampai 45 anak kalau hadir semua,” tuturnya.

Namun, perjalanan Ustadz Deni tak selalu mulus. Sekitar tiga bulan lalu, ia terpaksa pindah tempat mengajar karena tidak lagi mampu membayar kontrakan di lokasi sebelumnya.

“Di satu sisi, saya harus memenuhi kebutuhan keluarga dengan kerja serabutan. Tapi waktu untuk membayar kontrakan tetap berjalan. Akhirnya saya sampai harus meminta bantuan,” ungkapnya.

Bantuan itu bukan untuk kepentingan pribadi semata, melainkan agar proses belajar mengajar anak-anak tetap berjalan. Bahkan, ia sempat menulis di grup ibu-ibu murid hanya untuk meminta bantuan memindahkan tempat ngaji.

“Saya sadar, kondisi keuangan orang tua murid pun kebanyakan sama seperti saya. Saya tidak menyalahkan mereka,” ucapnya lirih.

Dari pengalaman itu, Ustadz Deni mengambil keputusan besar: tidak membebankan biaya kepada siapa pun.

“Yang penting anak-anak mereka tetap mengaji. Maka saya putuskan membuka program gratis,” katanya.

Program ngaji gratis ini telah berjalan sekitar lima bulan di lokasi lama, dan hingga kini tetap dilanjutkan di tempat baru.

Di tengah keterbatasan ekonomi dan ketidakpastian hidup, Ustadz Deni memilih bertahan untuk menjaga cahaya pendidikan agama tetap menyala di lingkungannya. Baginya, mengajar ngaji bukan sekadar pekerjaan, tetapi amanah yang harus dijaga, meski harus dibayar dengan keringat dan kesabaran.

Editor : Agung Bakti Sarasa

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut