Farhan Bicara Setahun Memimpin Bandung: Fokus Jaga Kepercayaan
BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Menandai satu tahun masa jabatannya, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan refleksi mendalam mengenai dinamika pembangunan, pelayanan publik, hingga tantangan integritas di Kota Kembang.
Farhan menegaskan bahwa fokus kepemimpinannya kini tertuju pada perbaikan aspek fundamental yang bersentuhan langsung dengan keseharian warga.
Selama setahun terakhir, Farhan mengakui bahwa energi besar dan kreativitas warga Bandung dibarengi dengan ekspektasi publik yang tinggi. Ia menyatakan tidak anti-kritik terhadap berbagai keluhan yang muncul, baik di lapangan maupun di ruang digital.
"Tugas pemerintah adalah memastikan suara-suara itu tidak berhenti di keluhan, tetapi dijawab dengan perbaikan nyata," ucap Farhan dalam keterangannya, Rabu (4/2/2026).
Ia menekankan bahwa isu-isu harian seperti pengelolaan sampah, penataan jalan, parkir yang manusiawi, hingga responsivitas layanan publik menjadi prioritas utama dibanding sekadar mengejar program yang terdengar bombastis.
Menanggapi julukan Bandung sebagai "Kota Event", Farhan memberikan catatan kritis. Meski event mampu menggerakkan ekonomi dan pariwisata, ia menyadari adanya dampak negatif seperti kemacetan dan masalah sampah.
Ke depan, ia menetapkan standar baru bagi setiap penyelenggaraan acara di Bandung:
“Dampak ekonomi harus terukur, keterlibatan UMKM harus nyata dan tanggung jawab lingkungan harus menjadi bagian dari perencanaan. Dengan pendekatan ini, event tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan kualitas hidup warga,” jelasnya.
"Bandung harus nyaman dihuni sebelum indah dipromosikan. Kota ini tidak boleh hanya ramah bagi pengunjung, tetapi juga adil bagi warganya sendiri," lanjutnya.
Tahun pertama ini juga diwarnai tantangan terkait etika dan integritas pemerintahan. Menghadapi hal tersebut, Farhan memilih sikap terbuka dan menghormati proses hukum yang berjalan tanpa mengganggu pelayanan publik.
“Prinsip yang kami pegang sederhana, menghormati proses hukum, menjaga akuntabilitas institusi dan memastikan pelayanan kepada warga tetap berjalan tanpa gangguan. Integritas pemerintahan tidak ditentukan oleh absennya masalah, melainkan oleh cara kita bersikap ketika masalah itu muncul,” tuturnya.
Menutup refleksinya, Farhan mengusung filosofi merawat sebagai arah kepemimpinan ke depan. Baginya, merawat berarti memperhatikan hal-hal kecil, mendengar yang lemah, dan memperbaiki yang rusak secara konsisten.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mewujudkan visi Bandung yang utama.
"Satu tahun ini bukan tentang klaim keberhasilan, melainkan tentang tanggung jawab untuk terus belajar. Bandung adalah titipan bagi generasi berikutnya," pungkasnya.
Editor : Abdul Basir