Menebus Masa Lalu di Kolong Tol, Perjalanan Saepul dan Masjid Hijrah BJTB
Alih-alih mundur, ia justru merasa tertantang. Ia mengaku pernah hidup di dunia yang sama, sehingga memilih mendekati para preman dengan cara dialog. Gesekan tak terhindarkan, bahkan sempat muncul ancaman pembongkaran.
Pembangunan awal hanya 6x8 meter, bekas parkiran motor. Lantai belum rapi, dinding terbuka, dan salat berjamaah terlihat dari jalan raya. Pada Ramadan pertama, mereka hanya mampu membuat empat saf.
Namun tekanan datang silih berganti. Saat Saepul membantu korban gempa Cianjur selama lebih dari sebulan, muncul spanduk ancaman dan tumpukan ban serta kayu di sekitar masjid.
“Saya dapat kabar masjid mau dihancurkan. Saya pulang, telepon teman-teman. Datang hampir 100 motor,” kenangnya.
Ketegangan memuncak ketika enam orang mendatangi masjid saat Subuh. Ia hanya berdua dengan rekannya.
“Saya bilang, ‘Di sini saja kalau mau. Urang mah maot oge jihad.’ Tapi akhirnya tidak jadi bentrok besar,” ujarnya.
Masalah tak berhenti di situ. Ia juga mendapat teguran dari pengelola tol karena bangunan dianggap tak berizin.
“Mereka bilang tidak boleh ada bangunan masjid di sini. Saya jawab, kenapa dulu waktu tempat ini kumuh tidak ditertibkan?” katanya.
Editor : Rizal Fadillah