Menapaki Mudik dengan Jalan Kaki ke Ciamis, Kisah Asep, Penjual Cilok Asal Cibaduyut
“Sering jalan kaki, ke gunung juga pernah, ke Puncak Mega,” ucapnya.
Sehari-hari, Asep berjualan cilok di kawasan Cibaduyut. Sudah dua tahun ia menjalani pekerjaan itu, bahkan tinggal di tempat kontrakan yang disediakan oleh bosnya. Namun, penghasilannya belakangan tak menentu.
Ia harus menyetor Rp700 ribu, dengan potensi keuntungan Rp300 ribu jika dagangan habis. Sayangnya, kondisi sepi membuat hasilnya jauh dari harapan.
“Sekarang jarang habis, paling dapat Rp100 ribu, disetor Rp70 ribu,” tuturnya.
Kondisi itu pula yang membuatnya tak memiliki cukup ongkos untuk mudik. Bahkan, tunjangan hari raya yang diterimanya pun sangat terbatas.
“THR cuma dikasih cilok 50 biji sama sirup Marjan. Uang buat pulang juga kurang,” kata Asep.
Dengan bekal seadanya baju, dagangan cilok, dan perlengkapan sederhana ia tetap nekat pulang. Saat lelah, ia memilih beristirahat di masjid atau tempat seadanya.
Editor : Rizal Fadillah