Bikin Riweuh, Warga Jabar Tegas Tolak Brand Sekolah Maung
BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Gebrakan baru Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam memoles wajah pendidikan melalui program Sekolah Manusia Unggul (Maung) justru memicu kegaduhan di ruang digital. Program yang dijadwalkan meluncur pada tahun ajaran 2026/2027 itu, sekarang menjadi buah bibir.
Bukan karena fasilitasnya, melainkan rencana perubahan identitas sekolah-sekolah ikonik yang dianggap mencederai nilai sejarah.
Wacana penggantian nama sekolah legendaris seperti SMAN 3 dan SMAN 5 Bandung menjadi "Sekolah Maung" memantik reaksi keras. Publik menilai, langkah ini seolah menghapus rekam jejak panjang sekolah yang sudah berdiri kokoh sejak zaman kolonial tahun 1916.
Nada satir pun bermunculan dari warganet yang menyayangkan kebijakan tersebut. "Atuh euy semuanpunya sejarah sendiri tong di rubah rubah.. Atawa sakalian gedong sate diganti jadi gedung opak.. khas subang," sindir salah satu netizen yang merasa identitas lokal tidak seharusnya diutak-atik demi sebuah branding baru.
Selain faktor sentimental, kerumitan birokrasi di masa depan menjadi ketakutan nyata bagi para alumni. Legalitas ijazah dan dokumen administrasi lainnya dikhawatirkan bakal menjadi beban baru. "Saya setuju untuk menghapus zonasi, tapi untuk mengubah nama sekolah itu berpotensi membuat riweuh urusan apalagi ketika legalisir ijazah untuk keperluan registrasi," tulis warga net yang mencemaskan sisi praktis dari kebijakan ini.
Di balik kemegahan konsep "Manusia Unggul", publik juga menyoroti ironi besar di balik layar pendidikan Jawa Barat. Anggaran yang dialokasikan untuk memoles 41 sekolah favorit menjadi pusat keunggulan dianggap kontras dengan kondisi dapur para pendidik yang masih kembang kempis.
Kritik tajam diarahkan kepada Gubernur Dedi Mulyadi agar lebih fokus pada isi ketimbang kemasan. "Lebih baik mikirin kesejahteraan guru dulu pak byk guru di Jabar gajinya di layak 300ribu perbulan itupun di bayarkan 3 bulan sekali," tulis seorang netizen, mengingatkan bahwa guru yang sejahtera adalah kunci utama pendidikan berkualitas.
Gubernur Dedi Mulyadi berdalih bahwa Sekolah Maung adalah benteng terakhir bagi siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu agar tetap bisa mengakses sekolah berkualitas negeri.
“Dampaknya ke depan, kalau ini terus-terusan pemerintah provinsi membiarkan, maka nanti yang sekolah di sekolah swasta adalah anak orang kaya, anak pejabat, anak pejabat tinggi, anak anggota DPRD,” tegasnya membela kebijakan tersebut.
Meski tujuannya mulia untuk memutus mata rantai eksklusivitas sekolah swasta, pemilihan nama "Maung" tetap dianggap dipaksakan dan berpotensi menjadi guyonan bagi generasi mendatang.
"Ntar ditanya anak aku pas dia udh gede 'mama alumni sma mana?' 'Mama alumni sma MAUNG' seriusan atuh pak @kdm_jawabarat masih banyak hal2 penting di bandung dan lainnya yg harus diurus drpd ganti nama kaya gini!" keluh netizen lainnya, menutup gelombang protes yang hingga kini masih membanjiri lini masa.
Editor : Agung Bakti Sarasa