get app
inews
Aa Text
Read Next : Kunjungi TPA Sarimukti, Pansus XV DPRD Jabar Matangkan Regulasi Pengelolaan Sampah

Sempat Viral Dikepung Sampah, Bantaran Sungai Saguling Akhirnya Diserbu Ratusan Pelajar dan Aktivis

Senin, 18 Mei 2026 | 19:46 WIB
header img
HPSN 2026 di Bandung Barat. (Foto: Istimewa).

BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Kawasan bantaran Sungai Saguling yang terletak di Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), mendadak riuh oleh aksi gotong royong massal pada Kamis (7/5/2026). Langkah nyata ini digelar sebagai bentuk aksi kolektif dalam memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026.

Tidak hanya menggerakkan para aktivis dan pencinta alam, agenda penyelamatan lingkungan ini juga memicu antusiasme tinggi dari ratusan pelajar. Mereka tampak bersemangat menyisir area dari tumpukan limbah sekaligus menanam bibit pohon di sepanjang tepian sungai.

Titik pelaksanaan HPSN kali ini memang sengaja dipilih karena sempat menjadi sorotan tajam di jagat media sosial. Beberapa waktu lalu, jagat maya dihebohkan oleh rekaman visual yang memperlihatkan gunungan sampah rumah tangga kiriman lokal yang mengepung dan menutupi permukaan wilayah aliran penampungan air tersebut.

Sampah Bukan Melulu Tugas Pemerintah

Menanggapi urgensi tersebut, Wakil Bupati Bandung Barat, Asep Ismail, menegaskan bahwa momentum HPSN 2026 ini memegang peranan krusial untuk menggugah kesadaran kolektif warga akan krusialnya kelestarian alam sekitar.

"Kegiatan ini mengingatkan masyarakat bahwa penanggulangan sampah itu bukan hanya oleh pemerintah saja. Tapi harus oleh seluruh stakeholder termasuk masyarakat," katanya, saat ditemui pada Kamis (7/5/2026).

Asep mengimbuhkan, lahirnya kepedulian bersama mengenai tata kelola limbah secara mandiri merupakan investasi paling berharga bagi masa depan generasi penerus.

"Artinya supaya sampah di Bandung Barat bisa selesai bisa tertanggulangi ya harus bisa bersama-sama dengan masyarakat. Minimal di lingkungan masing-masing," katanya.

Di sisi lain, pemilihan program reboisasi lewat penanaman pohon dinilai sangat krusial bagi lanskap geografis KBB. Wilayah ini dikenal memiliki kerawanan yang cukup tinggi terhadap ancaman bencana alam seperti pergeseran tanah dan banjir bandang.

"Penanaman pohon ini bisa mencegah longsor maupun banjir bandang. Selama ini, KBB rawan longsor karena tanaman yang berakar dan mampu menguatkan tanah sudah gundul," katanya.

Solusi Budaya Memilah dari Rumah

Sinergi positif ini mendapat apresiasi penuh dari Senior Manager PLN Indonesia Power (IP) UBP Saguling, Doni Bakar. Pihaknya mengaku sangat mendukung gerakan pelestarian ekosistem di kawasan penyangga air Saguling tersebut.

"Karena apa yang dilakukan saat ini memang simbolis, tetapi bisa mempengaruhi dan mengajak masyarakat luas agar lebih peduli terhadap lingkungan, salah satunya melalui peringatan Hari Peduli Sampah Nasional," katanya.

Menurut Doni, jika fondasi kesadaran masyarakat dalam memilah limbah domestik sudah terbentuk kuat, kendala klasik seperti minimnya sarana prasarana pengumpulan maupun armada truk pengangkut tidak akan lagi menjadi hambatan utama yang berarti.

"Karena itu, kalau budaya masyarakat bisa diubah, misalnya sampah sudah dipilah dari rumah, kemudian sampah organik diolah menjadi maggot, sementara sampah anorganik diolah kembali menjadi barang yang bermanfaat, dampaknya akan sangat besar," katanya.

Doni kembali menegaskan bahwa penyelesaian rantai masalah limbah ini menuntut adanya kerja sama lintas sektor. Keterlibatan aktif elemen eksternal dinilai sangat membantu Indonesia Power, mengingat Waduk Saguling memegang fungsi vital sebagai tangki cadangan energi nasional sekaligus penggerak utama turbin PLTA Saguling.

"Untuk program berkelanjutan, kami rutin bekerja sama dengan berbagai pihak setiap tahun. Kami juga secara rutin melakukan pengangkutan eceng gondok dan keramba jaring apung di area waduk," katanya.

Sebagai langkah jangka panjang, korporasi juga merangkul warga lokal melalui pembentukan komunitas dampingan agar memiliki rasa kepemilikan untuk menjaga kebersihan waduk secara swadaya.

"Selain itu, masyarakat sekitar turut dilibatkan dengan membentuk kelompok binaan agar ikut peduli mengangkut sampah di waduk. Sampah yang dikumpulkan kemudian diolah kembali menjadi barang yang bermanfaat," tandasnya.

Editor : Agung Bakti Sarasa

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut