67,6% Balita Konsumsi Kental Manis untuk Ganti ASI, Rentan Sebabkan Stunting
BANDUNG BARAT,iNews BandungRaya.id - Konsumsi kental manis sebagai susu untuk mengganti Air Susu Ibu (ASI) merupakan persepsi yang keliru di masyarakat.
Data mengungkapkan sekitar 67,6% balita di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) masih mengonsumsi kental manis sebagai minuman pokok atau pengganti susu murni. Kondisi ini menjadi sorotan dalam upaya penanganan angka stunting.
Wakil Bupati Bandung Barat, Asep Ismail mengatakan, urgensi perbaikan pola konsumsi ini sejalan dengan langkah strategis memberantas kemiskinan ekstrem dan menekan angka stunting.
"Kami telah memerintahkan Asisten Daerah, Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial untuk berkolaborasi penuh dengan struktur ormas hingga ke tingkat paling bawah untuk mengatasi stunting," ucapnya saat ditemui usai kegiatan sosialisasi dan edukasi gizi dan peruntukan kental manis di Kompleks Pemda KBB, Selasa (21/7/2026).
Pihaknya menyambut baik kedatangan Pimpinan Pusat Muslimat NU dan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) untuk memperkuat edukasi gizi dalam mengatasi stunting. Ini menjadi kolaborasi lintas sektor yang positif dengan Pemda KBB.
"Pemahaman kental manis itu sejatinya bukan merupakan susu untuk pemenuhan gizi anak. Dampak dari konsumsi kental manis ini harus terus disampaikan ke masyarakat," sambungnya.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan KBB, dr. Enung Masruroh menjelaskan, akar masalah kental manis ini kerap disamakan dengan susu padahal kandungan gulanya mencapai 40 hingga 60 persen.
"Ini bukan susu murni. Jika dikonsumsi berlebihan sebagai pengganti minuman pokok, risiko kerusakan gizi, obesitas, hingga diabetes sangat nyata," jelasnya.
Apalagi tren obesitas pada anak dan remaja di Bandung Barat kini cenderung meningkat. Sehingga edukasi yang digalakkan menekankan agar produk ini hanya digunakan sebagai penyedap sesekali, bukan kebutuhan harian.
Di tempat yang sama Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU, dr. Erna Yulia Sofihara menambahkan, konsumsi gula berlebih membuat anak cepat merasa kenyang sehingga menolak asupan gizi lain yang lebih lengkap, salah satu pemicu gizi buruk dan stunting.
"Melalui jaringan kuat Muslimat NU yang menjangkau hingga ke tingkat RT/RW, kampanye 'kental manis bukan susu' terus didorong," ucap Erna.
Sementara Sekretaris Jenderal YAICI, Satria Yudistira mengungkapkan, hasil survei nasional menunjukkan kesalahan persepsi ini masih menjangkau 67,7% masyarakat, dengan Jawa Barat memiliki angka di atas rata-rata nasional.
"Program berkelanjutan pun disiapkan melalui sistem 'ketok tular' kader agar pemahaman benar tentang gizi menurun ke generasi berikutnya demi mencetak sumber daya manusia yang sehat dan cerdas," pungkasnya. (*)
Editor: Rizki Maulana