Cara Petani Ubah Limbah Jerami Jadi Air Bersih dan Pupuk Lewat Inovasi Sirkular
BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Langkah strategis dalam mendorong kemandirian warga dan pelestarian lingkungan kembali diperlihatkan di Kabupaten Karawang. Belum lama ini, wilayah operasional PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) melalui Fuel Terminal Cikampek menerima kunjungan kerja istimewa dari Staf Khusus Wakil Presiden Republik Indonesia, Tina Talisa. Agenda peninjauan yang dipusatkan di Yayasan Hidayatul Burhan, Desa Pasirtanjung, Kecamatan Lemahabang, ini difokuskan untuk memotret langsung efektivitas Program Prakarsa Bagja Juara yang mengandalkan konsep ekonomi sirkular dan pertanian berkelanjutan.
Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatul Burhan, Jaenal Apip, mengungkapkan bahwa lembaga pendidikan yang dipimpinnya konsisten menerapkan konsep Santri Tangguh yang mencakup tiga fondasi utama: pendalaman Al-Qur'an, penguasaan literasi digital, serta keterampilan hidup (life skill farming). Kemitraan strategis bersama Pertamina yang terjalin sejak beberapa tahun terakhir terbukti mampu mengakselerasi kemandirian institusi berbasis lingkungan tersebut.
"Alhamdulillah, melalui dukungan Pertamina Patra Niaga kami dapat mengembangkan Eco-Agro Santri. Program ini tidak hanya membekali santri dengan pendidikan agama, tetapi juga menanamkan kepedulian terhadap lingkungan, pertanian, dan kemandirian sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh pesantren maupun masyarakat sekitar," ujar Jaenal.
Lewat payung inisiatif Eco-Agro Santri, area pesantren kini mampu memanen sekitar 250 kilogram sayuran segar secara mandiri guna mencukupi kebutuhan gizi harian para santri. Tidak hanya itu, pemanfaatan energi terbarukan melalui panel surya (photovoltaic) serta pengolahan limbah dapur menjadi biogas membuktikan bahwa lembaga pendidikan keagamaan sanggup menjadi motor penggerak transisi energi serta kedaulatan pangan lokal.
Salah satu sorotan utama dalam kunjungan tersebut adalah implementasi Bank Jerami dengan Skema Tukar Jerami. Inovasi besutan Program Prakarsa Bagja Juara ini bahkan telah menorehkan prestasi gemilang dengan mencetak Rekor MURI sebagai pelopor program pemberdayaan petani melalui sistem tukar jerami dengan air bersih.
Sebelum program ini hadir, tumpukan jerami sisa panen di Desa Pasirtanjung lazimnya dimusnahkan dengan cara dibakar begitu saja. Tindakan tersebut tidak hanya memicu polusi udara dan meningkatkan emisi gas rumah kaca, tetapi juga merusak struktur unsur hara tanah. Kini, ribuan kilogram sisa tanaman padi tersebut diubah menjadi komoditas bernilai guna tinggi.
Terkait efektivitas terobosan ini, Staf Khusus Wakil Presiden RI memberikan apresiasi mendalam terhadap model pengelolaan sampah pertanian yang terintegrasi dengan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat:
"Melalui program ini, jerami yang sebelumnya dianggap sebagai limbah kini memiliki nilai ekonomi dan manfaat sosial. Sesuai dengan jumlah jerami yang dikumpulkan, masyarakat dapat menukarkannya dengan pupuk, air hasil pengolahan reverse osmosis, atau memanfaatkannya untuk membantu biaya pemasangan sambungan baru Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat). Program ini menunjukkan bahwa pengelolaan limbah dapat sekaligus menghadirkan manfaat bagi lingkungan dan membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat," ujar Tina.
Pandangan senada turut disampaikan oleh perwakilan penggerak lokal setempat, Endang Sutisna, yang bersyukur atas kolaborasi masif bersama badan usaha milik negara tersebut.
"Kami bersyukur atas dukungan Pertamina Patra Niaga melalui Program Prakarsa Bagja Juara. Program ini mendorong masyarakat untuk lebih mandiri melalui pengelolaan lingkungan, pertanian, dan pemanfaatan energi terbarukan. Kami berharap kolaborasi ini terus berlanjut dan memberi manfaat yang lebih luas," ujar Endang.
Selama kegiatan peninjauan berlangsung, rombongan petinggi Pertamina bersama jajaran staf khusus melakukan inspeksi ke berbagai titik proyek pemberdayaan, di antaranya:
Pengolahan Sampah Terpadu: Operasional Bank Sampah WISE serta unit pengelolaan serupa di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatul Burhan.
Infrastruktur Sanitasi: Sistem pengolahan air minum berbasis reverse osmosis (RO) dan fasilitas Pamsimas yang didukung dari hasil konversi jerami.
Kawasan Produktif: Lahan pertanian ramah lingkungan Eco-Agro Santri serta instalasi energi biogas mandiri.
Pengembangan UMKM: Sentra kuliner lokal Dapur Teteh serta koperasi warga binaan kelompok GEMKA dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).
Kehadiran program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ini dinilai selaras secara holistik dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), mencakup sektor pendidikan bermutu, akses air bersih, pertumbuhan ekonomi inklusif, pola konsumsi berkelanjutan, hingga aksi nyata mitigasi perubahan iklim global.
Editor : Agung Bakti Sarasa