Kebanyakan Baca Berita Negatif Bisa Bikin Stres, Waspada Bahaya Doomscrolling!
BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Tak sedikit orang yang membuka media sosial hanya untuk mencari informasi, tetapi tanpa sadar berakhir berjam-jam mengikuti berbagai kabar buruk, konflik, polemik, hingga perdebatan di ruang digital.
Kebiasaan terus-menerus mengikuti informasi negatif tersebut dikenal dengan istilah doomscrolling. Sejumlah penelitian mengaitkan pola konsumsi berita yang bermasalah atau berlebihan dengan kondisi kesejahteraan mental yang lebih buruk. Studi yang diterbitkan pada 2025, misalnya, menemukan adanya hubungan antara konsumsi berita yang bermasalah dengan kondisi kesehatan mental dan fisik yang lebih buruk.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengingatkan bahwa terlalu banyak mengikuti berita melalui televisi maupun media sosial dapat meningkatkan stres. Karena itu, WHO menyarankan membatasi waktu mengikuti berita apabila aktivitas tersebut mulai meningkatkan tekanan psikologis.
Fenomena tersebut turut menjadi perhatian Direktur Astacita Strategic Consultant, Abizar Machmud.
Menurut Abizar, masyarakat perlu lebih sadar terhadap pola konsumsi informasi di tengah derasnya arus berita melalui media sosial. Paparan narasi negatif secara terus-menerus, menurut dia, dapat membuat seseorang lebih mudah mengalami kelelahan mental dan kehilangan fokus untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
"Konsumsi berita negatif tanpa jeda membuat sistem saraf berada dalam kondisi tegang secara terus-menerus. Hal ini menaikkan hormon stres yang dalam jangka panjang menurunkan imunitas tubuh dan menguras energi produktif. Masyarakat menjadi mudah lelah, cemas, dan kehilangan fokus untuk berkarya," ujar Abizar.
Sejumlah penelitian memang menunjukkan adanya kaitan antara konsumsi berita negatif atau doomscrolling dengan stres dan kesejahteraan psikologis. Sebuah penelitian terhadap 400 pengguna media sosial menemukan bahwa doomscrolling berkaitan dengan kesejahteraan mental melalui mekanisme seperti secondary traumatic stress dan rendahnya mindfulness.
Editor: Rizal Fadillah