Strategi Unisba Tekan Pengangguran Lulusan Baru, Dorong Pencipta Lapangan Kerja di Era AI
BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Ratusan sarjana baru Universitas Islam Bandung (Unisba) resmi dilepas ke dunia industri pada perhelatan Wisuda Gelombang II Tahun Akademik 2025/2026 yang berlangsung Sabtu–Minggu, 22–23 Agustus 2026 di Bandung. Di tengah pesimisme tingginya angka pengangguran terdidik, Unisba membeberkan fakta menarik dari data rekam jejak alumni (tracer study) mereka.
Rektor Unisba Prof. A. Harits Nu’man menegaskan bahwa durasi alumni dalam mencari mata pencaharian pertama tergolong amat cepat. Bahkan, tidak sedikit mahasiswa yang sudah terserap pasar kerja sebelum mengantongi ijazah.
“Kalau berdasar data yang kami miliki, pengangguran itu tidak lama. Paling di Unisba rata-rata satu bulan untuk pekerjaan pertama. Satu sampai tiga bulan itu cukup tinggi,” kata Harits saat ditemui dalam rangkaian Wisuda Gelombang II Tahun Akademik 2025/2026 di Bandung, Sabtu (22/8/2026).
Menyelaraskan Kompetensi dan Tantangan Pasar Kerja
Menanggapi fenomena ketidaksesuaian antara kualifikasi lulusan dengan kebutuhan industri—di mana sektor vokasi kerap lebih dominan—Unisba menerapkan langkah ganda. Mahasiswa tak hanya dicetak menjadi pencari kerja (job seeker), tetapi juga perancang lapangan kerja (job creator).
“Secara kumulatif memang betul bahwa pengangguran terbesar itu adalah lulusan sarjana. Lapangan pekerjaan juga tidak sesuai dengan kompetensi yang ditujukan oleh para sarjana. Banyaknya lebih ke vokasi,” ujarnya.
Guna menjembatani hal tersebut, Unisba memfasilitasi dua skema pembekalan dalam kurikulumnya.
“Di kurikulum Unisba itu keduanya ada. Kalau dia job creator, berarti ada mata kuliah entrepreneurship. Kalau job seeker, kami fasilitasi dengan magang berdampak,” katanya.
Peluang dan Ancaman Artificial Intelligence (AI)
Di sisi lain, gempuran teknologi Artificial Intelligence (AI) menjadi tantangan tersendiri bagi angkatan kerja baru. Menanggapi situasi ini, Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat dan Banten Dr. Lukman, S.T., M.Hum., mengimbau agar sarjana baru tidak bersikap reaktif terhadap pembaruan teknologi.
Lulusan dituntut menguasai keahlian yang tak sanggup direplikasi oleh mesin, seperti penyelesaian masalah rumit, empati, hingga etika. Lukman juga membagikan resep keberhasilan bertajuk JAGO (Jejaring, Adaptif, Gesit, serta Orisinal dan Otentik).
“Jadikanlah teknologi sebagai alat yang kita berdayakan, bukan alat yang menggantikan peran kita,” kata Lukman.
Pesan Tiga Nilai Utama dan Prestasi Wisudawan
Prosesi wisuda yang mengukuhkan lebih dari 1.500 lulusan jenjang Doktor, Magister, Profesi, hingga Sarjana ini diposisikan sebagai gerbang awal pengabdian masyarakat. Unisba menyuntikkan tiga fondasi filosofis kepada para wisudawan: Mujahid (pejuang), Mujtahid (pemikir kritis), dan Mujaddid (pembawa pembaharuan).
“Sebagai lulusan, mereka diharapkan bisa memberikan added value, nilai tambah terhadap apa yang digagasnya secara positif dan berdampak kepada masyarakat,” ujar Harits.
Integrasi karakter moral dan spiritual juga dinilai menjadi pondasi vital dalam membentuk lulusan yang adaptif di tengah kemajemukan sosial.
“Nilai-nilai agama ditanamkan di sini adalah untuk membentuk karakter,” katanya.
Dalam momen bersejarah ini, tiga wisudawan mengukir prestasi gemilang:
IPK Tertinggi: Meisya Febriana (Prodi Ilmu Komunikasi, Fikom) dengan IPK 3,98.
Lulus Tercepat: Muhammad Farhan Faiz Mubarok (Prodi Ilmu Komunikasi, Fikom) dalam waktu 3 tahun, 4 bulan, 21 hari.
Lulusan Termuda: Nazwa Zahratunnisa (Prodi Kedokteran, FK) pada usia 20 tahun, 10 bulan, 21 hari.
Sebagai salah satu dari 19 kampus berakreditasi Unggul dari total 314 perguruan tinggi di Jabar dan Banten, Unisba membuktikan bahwa tolok ukur kesuksesan kampus tak sekadar mencetak sarjana, melainkan melahirkan SDM yang sanggup memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Editor : Agung Bakti Sarasa