Tidak Ikut Aksi AMPB, KAMMI Ajak Masyarakat Waspadai Provokasi dan Menjaga Kondusivitas
JAKARTA, iNewsBandungRaya.id — Beredarnya seruan aksi massa oleh Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) di Gedung DPR/MPR RI pada 27 Agustus 2026 disikapi secara kritis oleh sejumlah elemen mahasiswa.
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) menegaskan tidak akan terlibat dalam demonstrasi tersebut dan mengimbau publik untuk tetap tenang, mengedepankan dialog damai, serta menolak cara-cara provokatif yang berpotensi memecah belah bangsa.
Ketua Umum Pengurus Pusat KAMMI, Muhammad Amri Akbar, menegaskan bahwa menjaga stabilitas keamanan serta menghormati simbol-simbol negara merupakan prinsip utama yang wajib dijaga seluruh komponen masyarakat.
"Kami menolak aksi tersebut demi menjaga kondusivitas dan keutuhan persatuan nasional. Bagi KAMMI, itu adalah prinsip fundamental yang tidak bisa ditawar," ujar Amri.
Penolakan ini dipicu oleh adanya wacana aksi yang mengarah pada tindakan intimidatif, termasuk ancaman penyanderaan terhadap anggota DPR terkait tuntutan pengesahan RUU Perampasan Aset dan penerapan hukuman mati. Menurut Amri, ancaman semacam itu jelas mencerminkan tindakan yang tidak beradab di negara demokrasi.
"Bentuk ancaman atau niat menyandera anggota DPR merupakan eskalasi yang tidak dapat dibenarkan. Negara ini menganut paham demokrasi yang beradab," tegasnya.
Meski menolak cara-cara koersif dan provokatif yang menyasar pejabat publik maupun fasilitas negara, KAMMI menegaskan komitmennya untuk tetap mengawal agenda pemberantasan korupsi, termasuk terus mendorong pengesahan RUU Perampasan Aset melalui alur yang konstruktif.
Sikap senada disampaikan Koordinator Pusat BEM SI periode 2026–2027, Andira Yofi Sulendra. Ia mengonfirmasi bahwa organisasinya saat ini masih fokus pada konsolidasi internal pasca-Musyawarah Nasional (Munas) dan memilih tidak gegabah dalam merespons isu yang beredar.
Andira mengingatkan bahwa gerakan mahasiswa harus berlandaskan nilai moral dan pertimbangan intelektual, bukan aksi reaksioner yang hanya mengekor tren di media sosial.
"Kami tidak ingin gerakan BEM SI bersikap reaksioner atau sekadar ikut-ikutan karena isu tersebut sedang ramai. Mahasiswa harus memegang teguh perannya sebagai gerakan intelektual dan moral. Setiap langkah untuk turun ke jalan harus didasari konsolidasi yang matang," terangnya.
Elemen mahasiswa juga mengimbau masyarakat luas untuk lebih bijak menyaring informasi di media sosial, senantiasa memverifikasi kebenaran berita, serta tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang belum jelas asal-usulnya.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar