Dianggap Mirip Set Film Kolosal, Penataan Anyar Gedung Sate Diberi Rapor Merah oleh Pengunjung
BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Penataan ulang ikon bersejarah Kota Bandung, Gedung Sate beserta Lapangan Gasibu, dengan konsep Pasanggrahan Panca Rasa menuai pro dan kontra dari masyarakat. Sebagian warga menyambut positif tampilan lanskap yang terkesan lebih lapang, namun tidak sedikit yang melontarkan kritik pedas terhadap ornamen baru yang dinilai terlalu ramai dan menyimpang dari karakter aslinya.
Berdasarkan pemantauan langsung di area Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Citarum, Kota Bandung, publik memberikan rapor yang beragam atas hasil renovasi tersebut.
Seorang pengunjung, Teguh (21), menyoroti ketidakselarasan antara arsitektur lama dengan ornamen tambahan yang baru dipasang.
"Terlihat lebih bagus dan banyak perubahan, terutama di bagian depan karena lebih luas dilihatnya. Tapi menurut saya memang kurang cocok, karena tidak selaras antara bangunan zaman Belanda di-mix dengan budaya Sunda," ujar Teguh.
Ia juga menyentil aspek urgensi proyek penataan kawasan ini dan membandingkannya dengan penataan masa kepemimpinan sebelumnya.
"Saya akan mengkritik perihal perubahan wajah baru Gedung Sate, apakah perlu merevitalisasi tanpa adanya urgensi dan banyak di Kota Bandung yang harus dibenahi selain Gedung Sate," katanya. Teguh memberikan nilai 5 dari 10.
Kritikan Soal Ornamen Kerajaan dan Akses Publik
Nada tidak puas juga dilontarkan oleh Luna (22). Menurutnya, konsep yang diusung saat ini justru mengikis identitas cagar budaya Gedung Sate. Tambahan ornamen yang berlebihan dinilai membuat area ikonik tersebut tampak canggung.
"Menurut aku wajah Gedung Sate sekarang malah jadi kurang bagus dibanding sebelumnya. Memang kelihatan lebih megah dan banyak perubahan, tapi menurut aku terlalu ramai dan agak berlebihan," ujar Luna.
Luna menambahkan bahwa perubahan tata ruang juga berdampak pada kenyamanan fungsi akses jalan bagi warga.
"Yang sekarang justru terasa lebih ramai dan terlalu banyak elemen, terlalu berbau kerajaan," katanya.
Ia membenarkan anggapan netizen yang menyamakan gerbang baru tersebut dengan latar film kolosal. Kendati demikian, ia menyarankan agar pembenahan tidak semata mengejar kemegahan fisik.
"Renovasi jangan cuma fokus bikin gedungnya kelihatan lebih megah atau baru, tapi juga harus mikirin fungsi dan karakter aslinya," ujarnya sembari memberikan skor 5 dari 10.
Tinjauan Anggaran dan Respon Positif Warga
Kritik lain datang dari Nazwa Nindya (21) yang menyayangkan besarnya dana yang digelontorkan belum sebanding dengan hasil fisik yang dirasakannya.
"Kalau dari perkembangan Gedung Sate sekarang cukup kurang memuaskan, karena mungkin dari progresnya masih 80 persen, jadi aku lebih nyaman ke lapangan yang dulu," kata Nazwa yang memberi skor 6 dari 10.
"Kalau selagi masih renovasi yang 80 persen lebih bisa diperbaiki, terus lebih pendekatan sama pelari ataupun masyarakat sekitar tentang harapan seperti apa yang mereka harapkan," ujarnya.
Meski demikian, apresiasi tetap datang dari Apin (18). Warga Dago ini menganggap pembenahan area tersebut sudah berada di jalur yang benar.
"Untuk perkembangannya lumayan sih, bagus-bagus aja," ujar Apin yang memberikan nilai 9 dari 10. "Dari 0 sampai 10 paling 9 sih, soalnya belum lihat hasil jadinya juga," katanya.
Sebagai informasi, proyek penataan Pasanggrahan Panca Rasa yang diresmikan Pemprov Jabar pada 17 Agustus 2026 ini mengintegrasikan Plaza Gedung Sate, Jalan Diponegoro, dan Lapangan Gasibu. Pekerjaan plaza menelan biaya sekitar Rp15,8 miliar, sedangkan akumulasi total dana beserta pembangunan gerbang dan pilar porsi sebelumnya diperkirakan mencapai Rp35,6 miliar.
Editor: Agung Bakti Sarasa