get app
inews
Aa Text
Read Next : Warga Bandung Bisa Terbang Langsung ke Luar Negeri dari Bandara Husein Mulai Oktober

Misteri Dentuman Dini Hari di Bandung Terjawab: Erupsi Menerus Anak Krakatau Capai Level Siaga

Sabtu, 05 September 2026 | 12:02 WIB
header img
Erupsi Gunung Anak Krakatau. (Foto: PVMBG)

BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Misteri suara gemuruh dan getaran halus yang memicu keresahan warga di Jawa Barat, Banten, hingga Lampung pada rentang Jumat malam sampai Sabtu dini hari akhirnya mulai terkuak. Badan Geologi mengonfirmasi fenomena tersebut bertepatan langsung dengan peningkatan intensitas letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengindikasikan adanya korelasi kuat antara dentuman di pemukiman warga dengan guncangan vulkanik dari gunung yang secara administratif berada di Lampung Selatan tersebut.

"Suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi G. Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan," kata Lana dalam keterangannya, Sabtu (5/9/2026).

Rekam jejak Gunung Anak Krakatau memang kerap memicu perhatian pasca-letusan dahsyat 1883 dan tragedi longsoran tubuh gunung penyebebab tsunami pada akhir 2018. Setelah sempat relatif tenang sejak akhir 2023, aktivitas magmatiknya kembali melonjak signifikan memasuki pertengahan tahun ini.

"Sejak 2 Juli 2026, status aktivitas Gunungapi Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga). Seri erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik terus berlangsung hingga tanggal 5 September 2026," ujarnya.

Puncak gejolak vulkanik dilaporkan terjadi sepanjang Jumat malam hingga Sabtu dini hari. Gunung api aktif tersebut melontarkan material secara nonstop yang diiringi gema gemuruh berdurasi panjang, sebagaimana terpantau dari Pos Pengamatan Pasauran, Serang.

"Pada tanggal 5 September 2026 pukul 23.07 WIB, Gunungapi Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai dengan suara gemuruh. Sampai saat ini tanggal 5 September 2026, pukul 04.40 wib masih berlangsung erupsi menerus dan masih terdengar gemuruh dari Pos PGA Krakatau Pasauran dari erupsi menerus GAK. Tinggi kolom erupsi tidak teramati, akan tetapi warna merah menyala semburan erupsi terlihat jelas secara menerus," papar Lana.

Lana menambahkan bahwa fenomena visual yang memancarkan pendaran merah di kegelapan malam tersebut merupakan pancaran air mancur lava.

"Fenomena erupsi ini menyerupai "lava fountain" atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava. Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur adalah fenomena umum yang sering terjadi," ucapnya.

Kendati kepulan asap dan suara gema sempat membakar rasa khawatir publik akan ancaman gelombang tinggi, Badan Geologi menegaskan bahwa bentuk fisik gunung saat ini belum mengarah pada potensi bahaya tsunami seperti masa lalu.

"Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat meurutnya, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Meskipun demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologinya tetap dipantau secara intensif," jelasnya.

Saat ini, tingkat kewaspadaan Gunung Anak Krakatau bertahan kuat di Level III (Siaga). Publik diminta tetap tenang dan mewaspadai radius bahaya utama berupa semburan material panas serta pijar lava.

"Hingga saat ini, status aktivitas Gunungapi Anak Krakatau masih dalam Level III (Siaga). Potensi ancaman bahaya erupsi saat ini berasal dari aliran lava yang dapat disertain dengan lontaran batu pijar," pungkasnya.

Editor : Agung Bakti Sarasa

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut