get app
inews
Aa Text
Read Next : Imigrasi Bandung Tangkap WNA Nigeria, Diduga Lakukan Penipuan Modus Investasi Bodong

Jangan Tertipu Flexing! Ini Fakta di Balik Bisnis Trading Forex dan Referral

Minggu, 06 September 2026 | 14:36 WIB
header img
Marak IB Forex Flexing di Media Sosial, Alvin Tanasta Bongkar Sumber Cuan Sebenarnya. (Foto: Ist)

BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Scroll media sosial belakangan ini, bukan hal sulit menemukan konten yang menampilkan profit trading forex, saldo rekening fantastis, mobil mewah, hingga liburan ke berbagai negara. Semua terlihat menggiurkan.

Dari layar ponsel, trading forex seolah menjadi jalan pintas menuju kehidupan serba berkecukupan. Ada yang memperlihatkan hasil transaksi, membagikan cerita sukses, hingga mengajak pengikut bergabung ke komunitas atau membuka akun trading melalui tautan tertentu.

Tetapi, di balik tampilan kehidupan yang glamor tersebut, ada pertanyaan sederhana yang sering luput diperhatikan.

Sebenarnya, dari mana uang itu berasal?

Pertanyaan tersebut menjadi penting ketika aktivitas trading tidak hanya berkaitan dengan keuntungan dari transaksi pribadi, tetapi juga terhubung dengan model bisnis Introducing Broker (IB) forex.

Influencer dan investor Alvin Tanasta, yang memiliki latar belakang pendidikan di University of Illinois Urbana-Champaign serta pengalaman di industri investasi, mengajak masyarakat untuk melihat lebih jauh bagaimana ekosistem bisnis tersebut bekerja.

Bukan Sekadar Pamer Profit Trading

Di dunia forex, istilah Introducing Broker atau IB mungkin sudah tidak asing bagi sebagian trader.

Secara sederhana, IB merupakan pihak yang membawa atau mereferensikan nasabah kepada broker. Dalam skema tertentu, IB dapat memperoleh komisi berdasarkan aktivitas trading dari nasabah yang mereka referensikan.

Di sinilah cerita menjadi lebih menarik.

Sebab, ketika seseorang tampil sukses karena trading sekaligus memiliki tautan referral broker, penghasilan orang tersebut belum tentu hanya berasal dari keuntungan transaksi pribadinya.

Ada model bisnis dan skema komisi yang juga perlu dipahami.

Dengan kata lain, ketika melihat seseorang memamerkan profit trading kemudian mengajak audiens membuka akun melalui referral, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya "berapa besar profitnya?", tetapi juga "bagaimana sebenarnya dia menghasilkan uang?"

Ketika Transaksi Trader Tidak Sesederhana yang Terlihat

Dunia trading forex juga memiliki mekanisme yang mungkin tidak selalu terlihat oleh trader ketika mereka membuka atau menutup posisi melalui aplikasi.

Misalnya, seorang trader membuka posisi long gold atau XAUUSD dengan leverage 5x.

Bagi trader, yang terlihat hanyalah posisi terbuka di layar. Namun, bagaimana posisi tersebut diproses di belakang layar bergantung pada model dan mekanisme broker.

Dalam model tertentu, posisi nasabah dapat dikelola secara internal oleh broker dan tidak selalu diteruskan kepada Liquidity Provider (LP) dengan posisi yang sama.

Hal ini menjadi penting karena mekanisme tersebut dapat memengaruhi hubungan kepentingan antara broker dan trader.

Dalam skema tertentu, ketika trader mengalami kerugian atau terkena margin call (MC), pihak yang berada di sisi berlawanan dari transaksi berpotensi memperoleh keuntungan.

Bukan berarti seluruh broker menggunakan mekanisme yang sama.

Justru karena itu, calon trader perlu memahami bagaimana broker mengeksekusi order dan ke mana transaksi nasabah sebenarnya diteruskan.

Saat Flexing Berubah Menjadi Strategi Pemasaran

Di media sosial, gaya hidup mewah memang memiliki daya tarik tersendiri.

Mobil mahal, jam tangan, hotel berbintang, perjalanan ke luar negeri, hingga tangkapan layar profit dapat menciptakan kesan bahwa seseorang telah menemukan formula sukses dari trading.

Setelah perhatian terkumpul, tidak jarang muncul ajakan untuk masuk ke komunitas, mengikuti edukasi, atau membuka akun melalui tautan referral.

Pola seperti ini tidak otomatis berarti penipuan.

Namun, menurut Alvin, masyarakat perlu lebih kritis melihat siapa yang sebenarnya mendapatkan keuntungan dari aktivitas trading tersebut.

Sebab, ketika pendapatan IB bergantung pada aktivitas atau volume transaksi nasabah, kepentingan IB dan trader berpotensi tidak selalu berada di posisi yang sama.

Trader tentu berharap mendapatkan keuntungan dengan risiko yang terkendali. Sementara dalam skema tertentu, peningkatan aktivitas transaksi dapat memberikan keuntungan berupa komisi bagi pihak yang membawa nasabah.

Supercuan Saham dan Alvin Tanasta Soroti Fenomena Ini

Fenomena tersebut menjadi salah satu pembahasan Supercuan Saham bersama Alvin Tanasta.

Dengan pengalamannya di industri investasi, Alvin mengingatkan bahwa masyarakat sebaiknya tidak berhenti pada apa yang terlihat di media sosial.

Profit yang ditampilkan seseorang hanyalah satu bagian dari sebuah cerita.

Ada mekanisme transaksi, struktur bisnis, sumber pendapatan, hingga hubungan antara trader, IB, dan broker yang juga perlu dipahami.

Apalagi ketika trading dikemas bersama narasi gaya hidup.

Konten semacam itu memang dapat membuat trading terlihat mudah dan menjanjikan. Padahal, di balik setiap transaksi terdapat risiko yang tidak bisa dihilangkan hanya dengan melihat screenshot keuntungan.

Jangan Sampai Terjebak Ilusi Kaya dari Trading

Trading forex memiliki risiko tinggi. Karena itu, keputusan untuk masuk ke dunia trading sebaiknya tidak hanya didasarkan pada gaya hidup seseorang yang terlihat sukses di media sosial.

Mobil mewah bukan bukti sebuah strategi trading selalu berhasil.

Begitu pula screenshot profit tidak otomatis menunjukkan keseluruhan kondisi keuangan seseorang.

Sebelum membuka akun atau melakukan deposit, calon trader perlu mencari tahu legalitas broker, memahami biaya dan komisi, serta mengetahui bagaimana order mereka diproses.

Tidak kalah penting, pahami pula apakah pihak yang mengajak trading memperoleh komisi dari aktivitas nasabah.

Pada akhirnya, menjadi IB bukan berarti seseorang otomatis melakukan pelanggaran atau penipuan.

Yang perlu diperhatikan adalah transparansi.

Ketika seseorang mengajak orang lain masuk ke dunia trading, calon trader berhak mengetahui bagaimana bisnis tersebut bekerja, dari mana pendapatan diperoleh, serta risiko apa yang mungkin muncul.

Di tengah derasnya konten flexing trading forex, mungkin sudah waktunya kita tidak hanya bertanya, "berapa profit yang didapat?"

Tetapi juga bertanya:

"Siapa yang mendapatkan keuntungan ketika saya mulai trading?"

Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi langkah awal agar tidak mudah terbawa narasi kaya cepat dari trading forex yang berseliweran di media sosial.

Editor : Rizal Fadillah

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut