Saat Finfluencer dan AI Jadi Guru Keuangan, Masih Perlukah Belajar Manajemen?
BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Hari ini, keputusan keuangan tidak lagi selalu dimulai dari ruang kelas, bank, atau konsultasi dengan profesional. Banyak orang justru mengenal investasi, dana darurat, utang, hingga strategi membangun kekayaan dari video berdurasi kurang dari satu menit di media sosial. Fenomena finfluencer membuat pengetahuan keuangan terasa lebih dekat dan mudah dipahami.
Masalahnya, popularitas tidak selalu berjalan seiring dengan kompetensi. Tidak semua pembuat konten finansial memiliki pendidikan formal, sertifikasi, atau pemahaman yang cukup untuk menjelaskan risiko secara utuh. Saran yang terdengar meyakinkan dapat diterima sebagai kebenaran, padahal kondisi keuangan setiap orang berbeda.
1. Akses Keuangan Meningkat, Literasi Belum Tentu Mengikuti
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026 dari OJK, LPS, dan BPS mencatat indeks inklusi keuangan Indonesia mencapai 93,61 persen, sementara indeks literasi keuangan berada pada 69,57 persen. Angka ini menunjukkan masyarakat semakin mudah mengakses produk keuangan, tetapi kemampuan memahami dan mengambil keputusan keuangan masih memiliki ruang untuk diperkuat.
Inilah alasan ilmu manajemen keuangan tetap relevan. Manajemen keuangan bukan sekadar belajar menghitung laba atau membaca laporan keuangan. Di dalamnya terdapat kemampuan memahami risiko, nilai waktu uang, arus kas, keputusan investasi, struktur pendanaan, serta hubungan antara keputusan hari ini dan konsekuensi finansial di masa depan.
2. AI Membantu, tetapi Tidak Menggantikan Cara Berpikir
Tantangan berikutnya datang dari kecerdasan buatan. AI mampu menjelaskan istilah keuangan, membuat simulasi, bahkan membantu membaca data. Namun jawaban yang cepat bukan berarti keputusan yang tepat.
Tanpa fondasi pengetahuan, seseorang akan sulit menilai apakah jawaban AI masuk akal, relevan, atau justru menyesatkan. Karena itu, kemampuan paling penting di era AI bukan hanya mencari jawaban, melainkan menguji jawaban, memahami asumsi, dan berani mempertanyakan hasilnya.
3. Belajar Keuangan untuk Memiliki Kerangka Berpikir
Di sinilah pendidikan formal memiliki peran. Program Studi S1 Manajemen Taruna Bakti University, misalnya, dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mempelajari keuangan bukan sebagai kumpulan tips, tetapi sebagai disiplin ilmu yang terstruktur, kontekstual, dan dapat dipertanggungjawabkan. Program S1 Manajemen memang menjadi salah satu program studi unggulan yang ditawarkan Taruna Bakti University.
Pada akhirnya, kita tidak kekurangan informasi keuangan. Yang semakin dibutuhkan adalah kemampuan membedakan informasi, opini, dan analisis. Di tengah ramainya finfluencer dan kemudahan AI, ilmu manajemen keuangan justru menjadi kompas agar keputusan tidak hanya cepat, tetapi juga rasional, kritis, dan sesuai konteks.
Penulis: Dr. Virza Utama Alamsyah S.E., M.M, Dosen Taruna Bakti University & Praktisi Keuangan
Editor: Agung Bakti Sarasa