Sungai Citepus Dayeuhkolot Tertutup Gunung Sampah, Warga Tuntut Tanggung Jawab Pemkot Bandung
BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Warga Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, kembali harus menelan pil pahit akibat gempuran sampah kiriman yang datang secara masif dari arah Kota Bandung. Alih-alih menikmati lingkungan yang bersih, aliran Sungai Citepus di kawasan Kampung Cibiuk, Kelurahan Pasawahan, kini justru berubah menjadi lautan sampah plastik yang menggunung dan mengancam keselamatan warga sekitar.
Ironisnya, tumpukan limbah rumah tangga ini datang tak lama setelah pemerintah kota tetangga menggelar aksi bersih-bersih sungai menyambut hari jadinya. Kondisi tersebut memantik kemarahan publik setempat yang menilai aksi bersih-bersih tersebut tidak menyentuh akar permasalahan yang sebenarnya.
Pantauan di lokasi menunjukkan tumpukan sampah kemasan hingga plastik tebal membendung aliran air tepat di sekitar Perumahan Cibiuk Indah Blok IV. Timbunan limbah yang tersangkut di bendung (weir) bahkan sudah sejajar dengan struktur beton. Keadaan ini semakin diperparah dengan kemunculan busa putih pekat di permukaan air, yang mengindikasikan tingginya tingkat pencemaran limbah cair dari kawasan hulu.
Kritik tajam pun dilayangkan oleh warga setempat yang merasa wilayahnya dijadikan tempat pembuangan akhir secara tidak langsung oleh daerah tetangga. Saepudin (50), warga Kelurahan Pasawahan, mengungkapkan kekecewaannya secara terbuka terhadap efektivitas program pembersihan sungai yang dilakukan sebelumnya.
"Saya melihat kegiatan bersih-bersih Sungai Citepus di Kota Bandung hanya seremonial. Setelah diamati dari video, ternyata petugas tidak menaikkan sampah ke darat. Mayoritas tetap saja dilarungkan ke sungai. Pada akhirnya sampah kiriman ini akan mengalir dan sampai ke Dayeuhkolot," ujar Saepudin.
Ia mendesak agar pimpinan daerah tetangga tidak tinggal diam melihat penderitaan warga di wilayah hilir yang terus-menerus menjadi korban kiriman limbah.
"Terus terang kami sangat kecewa dan menyayangkan aksi Pemkot Bandung yang seolah mengirim sampah mereka ke Dayeuhkolot melalui Sungai Citepus. Wali Kotanya jangan diam saja, harus tanggung jawab," jelas dia.
Senada dengan Saepudin, warga lainnya bernama Deni (40) menegaskan bahwa seluruh material limbah yang memenuhi Sungai Citepus bukan berasal dari aktivitas warga lokal, melainkan kiriman murni yang terbawa arus deras dari kawasan padat perkotaan di hulu. Ia menilai kegiatan yang dilakukan selama ini sarat akan pencitraan tanpa solusi jangka panjang.
"Namun harapan kami yang oaling utama adalah Pemkot Bandung dapat bersikap tegas untuk menangani persolan sampah yang dibuang ke sungai kemudian dikirim ke Dayeuhkolot. Jangan cuma seremonial lah," tegas dia geram.
Deni juga memperingatkan potensi bencana yang mengintai jika masalah ini terus diabaikan, mengingat musim hujan dapat memicu luapan air bah akibat aliran sungai yang tersumbat total oleh tumpukan sampah.
"Tolong Pemkot Bandung dan Dinas LH Provinsi bergerak menangani persoalan sampah yang sering dibuang ke sungai ini, agar fenomena sampah kiriman ini tidak terus berulang," tegas Deni.
Sementara itu, Ketua Pentahelix Penanganan Banjir Dayeuhkolot, Tri Rahmanto, tidak menampik bahwa fenomena berulang ini menciptakan kelelahan tersendiri bagi para relawan dan elemen masyarakat yang berjuang menjaga kebersihan lingkungan.
"Namun seringkali juga, setelah dibersihkan besoknya sampah kembali menumpuk. Kami menduga kuat, mayoritas sampah yang memumpuk ini adalah sampah kiriman," ungkap Tri.
Sebagai langkah antisipasi jangka panjang, pihak relawan sempat mengusulkan pemasangan jaring pengaman sampah guna menyaring kiriman limbah dari wilayah hulu. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari instansi berwenang di Kota Bandung terkait polemik sampah lintas wilayah ini.
Editor: Agung Bakti Sarasa