Dari Gelap Menuju Sentra Ekonomi: Urgensi Infrastruktur Kelistrikan di Pelosok Sukabumi
BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Kawasan selatan Kabupaten Sukabumi, khususnya wilayah Jampang Kulon atau yang akrab disapa Pajampangan, menyimpan bentangan alam yang luar biasa. Namun, di balik keindahan bentang alamnya yang berbukit-bukit dan garis pantainya yang panjang, tersimpan tantangan klasik yang selama ini membatasi gerak laju perekonomian warga: keterbatasan infrastruktur dasar, terutama pasokan tenaga listrik yang merata.
Persoalan krusial ini mendapat sorotan tajam dari kalangan legislatif tingkat daerah. Dessy Susilawaty, S.Pd.I., seorang anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, memandang bahwa pemerataan dan penguatan jaringan kelistrikan di pelosok Jampang bukan sekadar urusan penerangan malam hari. Lebih dari itu, ketersediaan energi listrik adalah kunci utama untuk membongkar potensi ekonomi lokal yang selama ini tertidur puluhan tahun lamanya.
Berdasarkan peninjauan langsung yang ia lakukan ke lapangan, realitas di akar rumput masih memperlihatkan ketimpangan akses energi. Wilayah-wilayah pedalaman yang jauh dari pusat kecamatan sering kali luput dari jangkauan jaringan listrik yang stabil. Tantangan topografi yang berliku dan luasnya cakupan wilayah menuntut strategi pembangunan yang spesifik dan adaptif terhadap kondisi geografis setempat.
Menggerakkan Roda Ekonomi Pesisir dan Sentra Perikanan
Sektor pertama yang diyakini paling mendesak untuk disokong oleh energi listrik yang andal adalah bidang perikanan. Wilayah Jampang dikenal memiliki garis pantai yang strategis, membentang dari pesisir Ujung Genteng hingga kawasan geopark Ciletuh. Daerah-daerah ini merupakan surga penghasil komoditas laut tangkapan nelayan lokal.
Selama ini, nelayan kerap menghadapi dilema klasik: hasil tangkapan melimpah harus segera dijual dengan harga murah demi menghindari pembusukan karena ketiadaan fasilitas penyimpanan berpendingin (cold storage).
Melihat persoalan tersebut, Dessy menegaskan pentingnya kehadiran pasokan daya listrik yang stabil bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sektor perikanan tangkap.
“Kalau listriknya bagus dan stabil, pelaku UMKM bisa memiliki alat pendingin untuk menyimpan hasil laut. Jadi hasil tangkapan bisa disimpan lebih lama dan tidak harus langsung dijual,” ungkapnya.
Dengan beroperasinya fasilitas pendingin di tingkat pengusaha lokal, nilai tawar hasil laut di tangan nelayan akan terdongkrak. Komoditas tersebut dapat diolah lebih lanjut menjadi produk turunan bernilai jual tinggi, dikemas secara modern, serta dipasarkan ke luar daerah tanpa takut mengalami penurunan kualitas.
Mendorong Sektor Pertanian dan Industri Kuliner Tradisional
Tidak hanya di sektor perikanan, denyut nadi pertanian di Pajampangan juga memegang peranan penting. Komoditas pangan unggulan seperti singkong, ubi jalar, hingga tanaman pangan lokal khas seperti hanjeli, memiliki potensi besar untuk diangkat kelasnya melalui sentuhan teknologi pengolahan modern.
Keberadaan Desa Hanjeli di kawasan tersebut, menurut Dessy, telah membuktikan bahwa komoditas lokal yang dikelola dengan kreativitas mampu menjelma menjadi produk bernilai ekonomis tinggi. Namun, proses pengolahan bahan baku menjadi produk pangan siap saji, industri makanan beku (frozen food), maupun camilan tradisional seperti opak ketan, opak ubi, dan kecimpring, mutlak memerlukan suplai listrik berkekuatan memadai.
Penggunaan mesin-mesin produksi otomatis dan lemari pendingin dalam skala rumahan akan mempercepat kapasitas produksi para perajin lokal. Alhasil, produk-produk kuliner khas Jampang Kulon ini bisa menembus pasar ritel modern dengan pasokan yang konsisten.
Konektivitas Digital, Dunia Pendidikan, dan Masa Depan Generasi Muda
Di era modern saat ini, ketersediaan listrik tidak bisa dipisahkan dari kebutuhan akan infrastruktur digital. Akses internet, komputer, dan perangkat telekomunikasi lainnya menjadi instrumen vital bagi para pelaku usaha lokal untuk memasarkan produk secara digital (e-commerce).
Penguatan jaringan listrik yang berjalan beriringan dengan perluasan akses telekomunikasi akan membuka gerbang informasi yang lebih luas bagi masyarakat Jampang. Para pemuda desa kini memiliki peluang yang sama untuk merintis bisnis berbasis online tanpa harus meninggalkan kampung halaman mereka.
Selain aspek bisnis, dampak positif dari kestabilan pasokan listrik juga dirasakan langsung di sektor pendidikan. Anak-anak usia sekolah di wilayah pedalaman kini dapat memanfaatkan waktu malam hari secara optimal untuk belajar. Perangkat penunjang pembelajaran digital pun dapat diakses dengan mudah, meratakan kualitas pendidikan antara anak-anak di perkotaan dengan mereka yang tinggal di pelosok desa.
Menyatukan Langkah Melalui Sinergi Lintas Sektoral
Merintis kemandirian ekonomi di kawasan seluas Jampang Kulon tentu tidak cukup hanya mengandalkan inisiatif warga semata. Diperlukan sebuah pemetaan komprehensif yang melibatkan seluruh elemen terkait untuk membaca peta kebutuhan infrastruktur secara akurat.
Langkah strategis ke depan menuntut adanya kolaborasi yang erat dan berkesinambungan antara pemerintah daerah, PT PLN (Persero) sebagai penyedia layanan kelistrikan, para penggiat ekonomi lokal, serta tokoh masyarakat setempat.
Dengan terbangunnya ekosistem pembangunan yang terintegrasi—mulai dari ketersediaan energi, penguatan sektor perikanan dan pertanian, pemberdayaan UMKM, hingga peningkatan kualitas pendidikan dan digitalisasi—pembangunan infrastruktur di Jampang Kulon diyakini mampu mentransformasi wajah wilayah tersebut menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di selatan Jawa Barat.
Editor: Agung Bakti Sarasa