Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Beyond Intelligence Jadi Pesan Utama Unisba, Mahasiswa Baru Diminta Jadi Pemimpin Masa Depan
Advertisement . Scroll to see content

Resmi Jadi Apoteker, 71 Lulusan Unisba Dibekali Kemampuan Hadapi Era AI

Minggu, 04 Oktober 2026 | 10:33 WIB
  • author Susana
Resmi Jadi Apoteker, 71 Lulusan Unisba Dibekali Kemampuan Hadapi Era AI
Sebanyak 71 lulusan Pendidikan Profesi Apoteker FFDS Unisba resmi mengucapkan sumpah profesi. (Foto: Istimewa).

BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Sebanyak 71 lulusan Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker Fakultas Farmasi dan Sains (FFDS) Universitas Islam Bandung (Unisba) resmi mengucapkan sumpah profesi sebagai apoteker.

Prosesi Pengambilan Sumpah Apoteker Gelombang ke-10 tersebut berlangsung di Ballroom Hotel Grandia, Jalan Cihampelas No. 80–82, Kota Bandung, Sabtu (3/10/2026).

Dekan FFDS Unisba, Dr. Apt. Suwendar, M.Si., mengatakan pengambilan sumpah menjadi tahap penting bagi para lulusan sebelum menjalankan tanggung jawab profesional sebagai apoteker di tengah masyarakat.

Setelah mengucapkan sumpah profesi, para lulusan berhak memperoleh sertifikat kompetensi dan sertifikat profesi yang menjadi salah satu persyaratan untuk mendapatkan Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA).

“Yang diambil sumpah sebanyak 71 orang. Setelah disumpah ini, mereka berhak mendapatkan sertifikat kompetensi dan sertifikat profesi sebagai persyaratan untuk mendapatkan surat tanda registrasi apoteker yang mereka perlukan untuk menjalankan tugas keprofesiannya di masyarakat,” ujar Suwendar.

Menurutnya, sumpah profesi apoteker bukan hanya bagian dari proses administratif. Prosesi tersebut memiliki makna moral dan menjadi pengingat bagi para lulusan untuk menjalankan profesinya dengan penuh tanggung jawab.

Apoteker Dituntut Mampu Beradaptasi dengan AI

Di tengah perkembangan teknologi digital, FFDS Unisba juga membekali mahasiswa dengan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).

Suwendar mengatakan mahasiswa diberikan pelatihan untuk memanfaatkan teknologi AI dengan tetap mengikuti kebijakan akademik. Kemampuan untuk menyeleksi dan memverifikasi informasi yang dihasilkan AI juga menjadi hal penting.

“Kami tidak mengharamkan AI. Kami persilakan menggunakan AI selama masih dalam koridor kebijakan akademik. Yang penting mereka bisa menyeleksi informasi yang didapat dari AI,” katanya.

Menurut Suwendar, perkembangan AI tidak serta-merta menghilangkan peran apoteker. Justru, kemampuan profesional dalam memeriksa dan memastikan kebenaran informasi menjadi semakin penting.

Sebab, informasi yang diberikan AI tidak selalu sepenuhnya benar. Karena itu, apoteker tetap dibutuhkan untuk memastikan informasi kefarmasian yang diberikan kepada masyarakat dapat dipertanggungjawabkan.

“Kami pun sebagai apoteker yang wajib atau punya kemampuan untuk melakukan seleksi, mana informasi yang benar, mana informasi yang tidak benar. Dengan demikian, kemampuan seorang apoteker dalam memberikan informasi yang benar itu masih dibutuhkan,” jelasnya.

Unisba Bekali Apoteker dengan Pemahaman Kehalalan Obat

Selain perkembangan teknologi, aspek kehalalan obat juga menjadi perhatian FFDS Unisba. Suwendar mengatakan masih terdapat sejumlah bahan yang digunakan dalam produk farmasi yang perlu dikaji dari perspektif kehalalan.

Beberapa di antaranya berkaitan dengan penggunaan bahan hewani pada kapsul, etanol, hingga bahan tertentu dalam proses pembuatan vaksin.

Untuk menghadapi persoalan tersebut, FFDS Unisba membekali calon apoteker dengan pemahaman keislaman. Bekal tersebut diharapkan membantu para lulusan mempertimbangkan aspek kehalalan sekaligus kebutuhan pasien dalam menjalankan praktik kefarmasian.

Rektor Unisba, Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., juga berpesan agar para apoteker muda tidak berhenti belajar dan mampu mengintegrasikan ilmu kefarmasian dengan nilai-nilai Islam.

Menurutnya, lulusan Unisba tidak hanya dituntut memiliki knowledge dan skill, tetapi juga attitude. Kompetensi akademik harus berjalan beriringan dengan adab, integritas, dan amanah.

“Dahulukan adab daripada ilmu,” pesannya.

Ia mengingatkan para apoteker muda agar sumpah profesi yang telah diucapkan tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi diwujudkan dalam praktik sehari-hari.

Ketika menerima resep dari dokter, misalnya, apoteker harus mampu memastikan keamanan, manfaat, hingga aspek kehalalan obat yang diberikan kepada pasien.

“Ketika dokter memberikan sebuah resep, maka resep itu dibaca oleh kalian. Maka kehalalan obat itu, kebermanfaatan obat itu, dan upaya untuk menyembuhkan bagi pasiennya apakah sudah terpenuhi semuanya? Maka masuklah di dalamnya adalah fikih Islam,” tuturnya.

Harits juga mendorong para lulusan untuk terus berkembang sebagai mujahid yang memperjuangkan ilmu dan profesi, mujtahid yang mampu berpikir serta mengambil keputusan secara tepat, dan mujaddid atau inovator dalam menghadapi tantangan kefarmasian di era digital.

Apoteker Diminta Pegang Teguh Integritas dan Kejujuran

Ketua Badan Pengurus Yayasan Unisba, Prof. Dr. K.H. Miftah Faridl, mengingatkan para apoteker baru bahwa tantangan setelah menyelesaikan pendidikan justru akan semakin beragam.

Karena itu, ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Unisba harus diwujudkan dalam sikap dan pengabdian nyata kepada masyarakat.

Ia menyebut rasa syukur sebagai salah satu bekal penting dalam menghadapi kehidupan. Menurutnya, rasa syukur tidak cukup hanya disampaikan melalui ucapan, tetapi harus diwujudkan dengan memanfaatkan ilmu dan nikmat yang diberikan Allah untuk memberikan manfaat.

“Wujud syukur dalam agama kita bukan hanya mengucapkan Alhamdulillah, tetapi memanfaatkan segala ilmu yang didapat dan nikmat yang didapat untuk ditunjukkan kepada Allah,” tutur Miftah.

Ia juga berpesan agar para lulusan membangun ketangguhan spiritual dalam menghadapi berbagai tantangan profesi.

Mengutip nilai-nilai dalam Surah Al-Mu’minun ayat 1–9, Miftah menekankan pentingnya iman, meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat, menjaga kekhusyukan dalam beribadah, menunaikan amanah, serta menjunjung tinggi kejujuran.

“Kejujuran menjadi bagian dari akhlak kita. Hidup jujur harus menjadi bagian sikap hidup keseharian,” pesannya.

Menurutnya, kejujuran menjadi nilai penting bagi tenaga kesehatan karena keputusan dan tindakan yang dilakukan dapat berdampak langsung terhadap kehidupan orang lain.

Para lulusan Unisba pun diharapkan tetap memegang nilai-nilai keislaman ketika menjalankan profesi sebagai apoteker di tengah masyarakat.

“Selamat berjuang. Anda tetap warga Unisba, walaupun sudah lulus dari Unisba. Mudah-mudahan Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberkahi kita,” ungkapnya.

Apoteker Diminta Terus Tingkatkan Kompetensi

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, dr. Raden Vini Adiani Dewi, M.MRS., mengatakan pengambilan sumpah profesi menjadi gerbang awal bagi para lulusan untuk memasuki dunia pengabdian.

Setelah menyelesaikan pendidikan profesi dan uji kompetensi, para lulusan dinyatakan sebagai tenaga kefarmasian yang kompeten.

Menurutnya, praktik kefarmasian akan mempertemukan para apoteker dengan berbagai persoalan dalam pelayanan kesehatan, termasuk keterbatasan fasilitas dan distribusi tenaga kefarmasian.

Kondisi tersebut akan menguji integritas dan profesionalisme apoteker dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Vini juga mengingatkan pentingnya pembelajaran sepanjang hayat. Perkembangan teknologi digital dan kompleksitas persoalan kesehatan membuat apoteker harus terus memperbarui kompetensinya.

Ia menyebut para apoteker perlu memenuhi 100 Satuan Kredit Profesi (SKP) dalam lima tahun sebagai bagian dari pengembangan profesional berkelanjutan.

“Pembelajaran sepanjang hayat bukan lagi pilihan, tetapi merupakan sebuah keharusan,” ujarnya.

Pesan serupa disampaikan Kolegium Farmasi yang diwakili Prof. Dr. Apt. Ida Masfiroh, M.Si.

Ia mengatakan Kolegium Farmasi pada 2026 telah menerbitkan Standar Kompetensi Tenaga Kefarmasian melalui Surat Keputusan Konsil Kesehatan Indonesia.

Standar tersebut diharapkan menjadi pijakan bagi institusi pendidikan untuk terus meninjau dan mengembangkan kurikulum sesuai dengan perkembangan kompetensi kefarmasian.

Para apoteker baru juga diharapkan mampu mengambil peran dalam berbagai persoalan kesehatan masyarakat, mulai dari penanggulangan tuberkulosis, penurunan stunting, hingga penguatan layanan promotif dan preventif.

71 Apoteker Baru Siap Jalankan Amanah Profesi

Perwakilan apoteker baru, Qpt. Rahma Azizah, S.Farm., mengatakan sumpah profesi yang diucapkan menjadi komitmen untuk menjalankan profesi berdasarkan ilmu dan etika.

Menurutnya, perjalanan pendidikan profesi yang telah dilalui menjadi bekal bagi para lulusan untuk menjalankan amanah di berbagai bidang kefarmasian.

“Mulai hari ini kita tidak hanya menyandang gelar apoteker, tetapi juga menerima amanah dan tanggung jawab,” ujarnya.

Rahma berharap para apoteker baru dapat mempertahankan nilai-nilai yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Unisba.

Para lulusan diharapkan mampu memberikan kontribusi ketika bekerja di rumah sakit, industri farmasi, pemerintahan, pendidikan, maupun berbagai bidang pelayanan kefarmasian lainnya.

Editor: Rizal Fadillah

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut