Imbas Keracunan Belasan Siswa SDN Garuda, Operasional SPPG Jambudipa 1 Distop Sementara
BANDUNG BARAT,iNews BandungRaya.id - Satuan Tugas Makan Bergizi Gratis (Satgas MBG) Kabupaten Bandung Barat (KBB) menindaklanjuti kasus keracunan di SDN Garuda.
Adapun keputusan yang sudah diambil adalah dengan menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jambudipa 1 yang memasok menu MBG ke SDN Garuda selama 20 hari.
"Menyusul insiden dugaan keracunan di SDN Garuda Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, kami sudah hentikan dahulu operasional SPPG Jambudipa 1 selama 20 hari," kata Ketua Satgas MBG KBB, Fauzan Azima, Rabu (7/10/2026).
Fauzan menyampaikan, langkah tersebut sebagai bukti keseriusan pengawasan mutu dan keamanan pangan dalam program yang menyasar penerima manfaat dalam program MBG.
Penghentian operasional tersebut dilakukan menyusul laporan yang masuk pada Selasa, 29 September 2026, di mana sejumlah siswa mulai menunjukkan gejala kesehatan yang mengkhawatirkan setelah mengonsumsi sajian dari program tersebut.
Gejala yang muncul meliputi rasa mual, muntah, pusing, hingga sakit perut yang terasa melilit menjadi reaksi tubuh yang menjadi indikasi kuat adanya masalah pada keamanan pangan yang disajikan.
Dikatakannya, laporan terkait dugaan keracunan langsung ditindaklanjuti begitu diterima pihaknya. Tim investigasi turun ke lapangan guna menelusuri sumber masalah, mulai dari proses penyiapan, pengolahan, hingga pendistribusian makanan ke sekolah.
"Menu yang dikonsumsi siswa pada hari kejadian terdiri dari nasi putih, hidangan ayam chicken cordon bleu, kacang polong goreng, sayuran, dan buah kelengkeng sebagai penutup," sebutnya.
Berdasarkan pemeriksaan langsung di lokasi, ungkap Fauzan, tim menemukan indikasi kuat bahwa salah satu komponen lauk yang disajikan mengalami perubahan rasa yang tidak wajar, sehingga menjadi petunjuk utama penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswa.
Kemudian, sampel makanan yang diduga bermasalah telah diamankan dan diambil untuk pemeriksaan lebih lanjut guna memastikan jenis, penyebab, serta tingkat bahayanya.
"Dari hasil asesmen lapangan secara menyeluruh, ditemukan dugaan adanya makanan, khususnya lauk yang berubah rasa. Tapi kepastiannya tetap harua menunggu sampel yang sedang uji lab," pungkasnya. (*)
Editor: Rizki Maulana