Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Goyang Lidah di Jabar: 5 Kuliner Legendaris yang Wajib Kamu Coba Akhir Pekan Ini!
Advertisement . Scroll to see content

Bukan Sekadar Tempat Makan, Imah Babaturan Berjuang Demi Pertahankan Kualitas

Kamis, 15 Oktober 2026 | 15:07 WIB
  • author Mulki Albar
Bukan Sekadar Tempat Makan, Imah Babaturan Berjuang Demi Pertahankan Kualitas
Pemilik Imah Babaturan, Mohammad Nurul Hudha dan Anggia Bonyta. (Foto: Ist)

BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Mempertahankan usaha kuliner selama lebih dari satu dekade bukan perkara mudah, terutama di tengah persaingan bisnis makanan dan kenaikan harga bahan baku. Namun, Warung Imah Babaturan tetap bertahan dengan identitasnya sebagai tempat makan yang menyajikan masakan rumahan di Kota Bandung.

Memasuki tahun ke-11 pada 2026, Imah Babaturan terus mengandalkan menu yang akrab dengan keseharian masyarakat. Selain menyajikan makanan, warung ini berupaya menghadirkan suasana hangat layaknya bersantap di rumah sendiri.

Perjalanan usaha tersebut dibagikan dalam kegiatan media gathering bersama sejumlah awak media di Imah Babaturan cabang Tamansari, Kota Bandung. Dalam kesempatan itu, pemilik Imah Babaturan, Mohammad Nurul Hudha dan Anggia Bonyta, menceritakan perjalanan usaha yang mereka bangun sejak 2015.

Nama Imah Babaturan berasal dari bahasa Sunda yang berarti rumah teman. Filosofi tersebut menggambarkan konsep yang diusung sejak awal, yakni tempat makan dengan suasana akrab dan sajian yang mengingatkan pelanggan pada masakan rumahan.

Di tengah tren kuliner yang terus berkembang, konsep sederhana itu menjadi identitas yang tetap dipertahankan. Namun, perjalanan selama 11 tahun bukan tanpa tantangan, terutama ketika kenaikan harga bahan pangan mulai menekan keuntungan usaha.

Mohammad Nurul Hudha, yang akrab disapa Uyul, mengungkapkan kenaikan harga bahan baku membuat pengelola harus menghitung ulang biaya produksi. Salah satu contohnya adalah harga ayam yang sebelumnya berkisar Rp35.000 hingga Rp38.000 per kilogram, kini mencapai Rp48.000 per kilogram.

Kondisi tersebut membuat pengelola menghadapi dilema dalam menjaga harga jual agar tetap terjangkau, sekaligus mempertahankan kualitas makanan dan keberlangsungan bisnis.

“Ya, mau gimana lagi. Margin semakin menipis. Terpaksa kita merugi dalam setiap porsi menu ayam yang disajikan,” ujar Uyul, Kamis (15/10/2026).

Selain kenaikan harga bahan baku, perubahan jumlah pesanan juga menjadi tantangan. Uyul menyebut penjualan menu cumi sambal hijau yang sebelumnya mencapai sekitar 30 porsi per hari kini turun menjadi 20 porsi.

Di tengah tekanan tersebut, keberlangsungan usaha Imah Babaturan tidak hanya berkaitan dengan penjualan makanan, tetapi juga menyangkut para pekerja yang menggantungkan penghasilan dari bisnis tersebut. Berdasarkan pemberitaan media, usaha kuliner ini memiliki sekitar 80 pekerja yang tersebar di dua cabang.

Karena itu, menjaga usaha tetap berjalan menjadi hal penting bagi pengelola. Keberlangsungan bisnis turut berkaitan dengan upaya mempertahankan pekerjaan bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Selama lebih dari satu dekade, Imah Babaturan mempertahankan karakter sebagai tempat makan dengan sajian rumahan dan suasana yang akrab. Di tengah persaingan kuliner, konsistensi konsep tersebut menjadi bagian dari identitas yang terus dibawa.

Memasuki usia ke-11, tantangan berikutnya adalah menjaga agar pengalaman menikmati masakan rumahan tetap dapat dirasakan pelanggan di tengah kenaikan biaya produksi dan perubahan kondisi pasar.

Sebelas tahun perjalanan Imah Babaturan bukan sekadar penanda usia bisnis, tetapi juga upaya mempertahankan ruang bagi masakan rumahan di tengah semakin beragamnya pilihan kuliner di Kota Bandung.

Editor: Rizal Fadillah

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut