BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Kanker paru tetap menjadi salah satu penyebab kematian akibat kanker tertinggi di Indonesia. Tingginya angka kematian ini sebagian besar dipicu oleh terlambatnya diagnosis, karena banyak pasien baru terdeteksi pada stadium lanjut. Akibatnya, pilihan terapi terbatas dan peluang kesintasan pasien menurun.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa skrining kanker paru, terutama pada kelompok yang berisiko tinggi, dapat mendeteksi penyakit lebih dini. Pada tahap awal, pengobatan lebih efektif dan peluang hidup pasien meningkat. Sayangnya, hingga kini program skrining kanker paru belum terintegrasi secara menyeluruh dalam sistem kesehatan nasional.
Merokok menjadi faktor risiko utama kanker paru. Sebagian besar kasus terkait langsung dengan paparan rokok, baik perokok aktif maupun perokok pasif. Oleh karena itu, pengendalian kanker paru perlu seiring dengan penguatan program berhenti merokok dan kebijakan pengendalian tembakau yang berkelanjutan dan tegas.
Dalam mendukung langkah tersebut, Perkumpulan Onkologi Toraks Indonesia (POTI) menggelar POTI 2026 2nd Lung Cancer Forum bertajuk “The Art & Science of Thoracic Oncology: Practical Implementation for Daily Practice”, yang berlangsung pada 16–18 Januari 2026 di Hotel Aryaduta Bandung.
Forum ini menjadi ruang strategis bagi tenaga kesehatan, akademisi, dan pemangku kebijakan untuk membahas inovasi terbaru dalam skrining, diagnosis, dan tatalaksana kanker paru. Selain itu, forum juga menekankan pentingnya advokasi pencegahan melalui pengendalian rokok.
Editor : Agung Bakti Sarasa
Artikel Terkait
