BANDUNG,iNews BandungRaya.id - Peringatan Nuzulul Quran bukan sekadar seremoni tahunan yang dilakukan setiap Bulan Suci Ramadan.
Lebih dari itu, momen turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW menjadi titik awal lahirnya peradaban ilmu yang mengubah arah sejarah umat manusia.
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. KH. Achmad Tjachja Nugraha mengatakan, Alquran tidak hanya hadir sebagai kitab suci, tetapi juga sebagai pedoman transformasi sosial, moral, dan intelektual.
Peristiwa turunnya Alquran di Gua Hira harus dimaknai sebagai revolusi peradaban berbasis ilmu pengetahuan.
“Ayat pertama yang turun adalah Iqra, bacalah. Ini bukan kebetulan. Islam sejak awal menempatkan ilmu sebagai fondasi utama kebangkitan umat,” ujar Prof. Achmad dalam keterangannya saat memperingati Nuzulul Quran, Sabtu (7/3/2026).
Ia menjelaskan, Nuzulul Quran mengandung pesan kuat tentang pentingnya literasi, riset, dan penguatan akhlak dalam kehidupan bermasyarakat.
Di tengah tantangan globalisasi dan derasnya arus informasi digital, umat Islam dituntut untuk kembali menjadikan Al-Quran sebagai rujukan utama dalam berpikir dan bertindak.
“Al-Quran bukan hanya dibaca untuk mendapatkan pahala, tetapi harus dipahami dan diimplementasikan dalam sistem sosial, ekonomi, pendidikan, hingga tata kelola pemerintahan,” tegasnya.
Sebagai Penasihat Persatuan Umat Islam (PUI), Prof. KH. Achmad menilai organisasi keumatan memiliki tanggung jawab besar dalam membumikan nilai-nilai Al-Quran.
PUI, kata dia, sejak awal berdiri membawa misi dakwah dan pendidikan yang berorientasi pada penguatan umat melalui ilmu dan akhlak.
Ia mengingatkan bahwa kemunduran umat seringkali terjadi bukan karena kurangnya sumber daya, tetapi karena menjauh dari nilai dasar yang diajarkan Al-Quran, seperti kejujuran, keadilan, disiplin, dan kerja keras.
“Nuzulul Quran harus menjadi momentum muhasabah. Sudah sejauh mana Al-Quran menjadi pedoman hidup kita? Apakah ia hanya hadir di rak-rak rumah, atau benar-benar menjadi ruh dalam setiap kebijakan dan keputusan?” tanyanya.
Lebih lanjut, Prof. Achmad menyoroti pentingnya menjadikan Ramadan sebagai bulan pembentukan karakter Qurani.
Ia menilai, puasa melatih pengendalian diri, empati sosial, dan integritas moral. Nilai-nilai tersebut, jika dikaitkan dengan ajaran Al-Quran, akan melahirkan pribadi dan masyarakat yang tangguh.
Dalam konteks kebangsaan, ia juga menegaskan bahwa nilai-nilai Al-Quran sejalan dengan semangat membangun Indonesia yang adil dan beradab.
Prinsip keadilan sosial, persaudaraan, dan penghormatan terhadap kemanusiaan merupakan ajaran universal yang relevan dalam kehidupan berbangsa.
“Islam tidak pernah bertentangan dengan semangat kebangsaan. Justru Al-Quran mengajarkan kita untuk membangun masyarakat yang damai, inklusif, dan berkeadaban,” ujarnya.
Ia berharap peringatan Nuzulul Quran tidak berhenti pada kegiatan seremonial seperti pengajian atau lomba tilawah semata.
Lebih dari itu, harus ada gerakan nyata untuk meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat ekonomi umat, dan memperluas dakwah berbasis ilmu.
Menurutnya, tantangan umat ke depan semakin kompleks, mulai dari krisis moral, disinformasi digital, hingga ketimpangan sosial. Semua itu, kata dia, membutuhkan solusi yang berpijak pada nilai wahyu dan pendekatan ilmiah.
“Al-Quran memberi arah, ilmu memberi metode. Keduanya harus berjalan beriringan,” tuturnya.
Menutup keterangannya, Prof. KH. Achmad Tjachja Nugraha mengajak seluruh umat Islam menjadikan Nuzulul Quran sebagai titik tolak kebangkitan spiritual dan intelektual.
“Jika kita ingin bangkit sebagai umat, maka kembalilah pada Alquran. Baca dengan kesadaran, pahami dengan ilmu, dan amalkan dengan konsisten. Itulah makna sejati Nuzulul Quran,” pungkasnya.
Editor : Rizki Maulana
Artikel Terkait
