JAKARTA, iNewsBandungraya.id – Nama Peltu Tatang Koswara telah tercatat dalam sejarah militer sebagai salah satu dari 14 sniper terbaik dunia. Di balik kemahirannya membidik lawan dari jarak ratusan meter, prajurit kebanggaan TNI AD ini memiliki rahasia unik untuk bertahan hidup di medan tempur, sepasang sepatu dengan alas terbalik buatan Cibaduyut.
Dikutip dari berbagai sumber, Tatang merupakan putra asli Bandung yang lahir dan besar di lingkungan perajin sepatu legendaris, Cibaduyut. Latar belakang keluarga sebagai pengusaha alas kaki inilah yang memberinya inspirasi tak terduga saat bertugas dalam Operasi Seroja di Timor Timur (kini Timor Leste) tahun 1977-1978.
Strategi Jejak Palsu
Tatang sengaja menciptakan sepatu khusus dengan posisi alas atau outsole yang terpasang terbalik. Strategi ini ia gunakan untuk mengelabui pasukan lawan (Fretilin) yang kerap melacak jejak kaki personel TNI.
"Alas terbalik ini terbukti efektif. Pernah saya dikejar lima personel musuh, tapi berhasil saya kecoh. Saya melompat ke semak-semak dan bersembunyi, sementara mereka berlari ke arah berlawanan karena mengikuti arah jejak kaki saya," kenang Tatang dalam salah satu wawancaranya.
Dengan sepatu "ajaib" tersebut, musuh akan mengira Tatang sedang berjalan menuju suatu arah, padahal sang penembak jitu justru sedang bergerak menjauh atau sudah berada di posisi yang berlawanan untuk membidik mereka.
Sang Siluman dari Cibaduyut
Kecerdikan Tatang tidak hanya terletak pada sepatunya. Pria yang menggunakan sandi "S-3" alias Siluman 3 ini memiliki prinsip tempur yang sangat disiplin. Berdasarkan doktrin Green Berets yang pernah melatihnya, Tatang selalu membawa 50 butir peluru dalam setiap misi: 49 peluru untuk musuh, dan 1 peluru terakhir untuk dirinya sendiri.
Peluru terakhir itu disiapkan agar ia bisa mengakhiri hidupnya sendiri jika tertangkap oleh lawan, demi menjaga rahasia negara. Beruntung, peluru ke-50 itu tidak pernah ia gunakan hingga masa pensiunnya.
Pengakuan Dunia
Kehebatan Tatang Koswara diakui secara internasional melalui buku Sniper Training, Techniques and Weapons karya Peter Brookesmith. Namanya bersanding dengan sniper-sniper ternama dunia lainnya seperti Simo Häyhä dari Finlandia.
Sang legenda wafat pada 3 Maret 2015, namun kisah kecerdikannya menggunakan "teknologi" lokal Cibaduyut untuk memenangkan taktik perang gerilya tetap abadi menjadi inspirasi bagi prajurit TNI hingga saat ini.
Editor : Vitrianda Hilba SiregarEditor Jakarta
Artikel Terkait
