Ia bahkan diminta menyerahkan KTP dan diminta bertanggung jawab pribadi jika terjadi sesuatu.
Meski penuh tekanan, Saepul memilih bertahan. Baginya, yang terpenting adalah perubahan lingkungan.
“Saya cuma ingin tempat ini tidak balik lagi ke maksiat. Itu saja,” ucapnya.
Situasi mulai tenang setelah Lebaran 2024, terutama setelah sosok preman terkuat di kawasan itu meninggal dunia. Sejak itu, aktivitas masjid berjalan lebih kondusif.
Kini, Masjid Hijrah BJTB terbuka 24 jam. Pengemudi ojek online bisa beristirahat, mengisi daya ponsel, hingga parkir gratis. Sejak berdiri, ia mengklaim belum pernah terjadi kehilangan kendaraan.
Setiap Ramadan, masjid menyediakan iftar, tarawih, tadarus, dan kajian. Di luar Ramadan, kajian rutin digelar Senin malam, Jumat malam, dan Ahad Subuh. Sejumlah komunitas juga rutin berbagi 150 hingga 250 porsi makanan setiap akhir pekan.
Saepul menyadari bangunan itu berdiri di lahan yang bukan miliknya. Jika suatu saat harus dibongkar, ia mengaku siap.
“Kalau dibongkar, amal jariah sudah tercatat di Allah. Yang penting tempat ini tidak kembali ke maksiat,” katanya.
Di bawah bayang-bayang beton tol dan riuh kendaraan, masjid itu menjadi simbol hijrah ruang ibadah yang tumbuh dari duka, bertahan di tengah ancaman, dan menjadi penanda perubahan sebuah kawasan yang dulu gelap.
Editor : Rizal Fadillah
Artikel Terkait
