Sejarah Cianjur dalam Perspektif Kritis
Hendi Jo dalam diskusi tersebut mengaitkan isi novel dengan konteks sejarah lokal Cianjur, khususnya pada masa pemerintahan Raden Aria Wiratanu Datar III.
Relasi antara elite lokal dan kekuasaan kolonial, kata Hendi, menjadi bagian penting dalam memahami dinamika sosial saat itu.
Menurut Hendi, novel ini memiliki kekuatan dalam menghadirkan sejarah sebagai sesuatu yang hidup dan dapat diperdebatkan.
Hendi menilai pendekatan sastra mampu membuka ruang interpretasi yang lebih luas dibandingkan narasi sejarah formal.
“Sejarah tidak pernah tunggal. Apa yang dilakukan Saep adalah menghadirkan kemungkinan tafsir lain yang lebih dekat dengan pengalaman manusia,” kata Hendi yang juga anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Cianjur itu.
Hendi mengapresiasi keberanian penulis dalam mengangkat isu-isu sensitif seperti ketimpangan sosial dan relasi kuasa, yang masih relevan hingga saat ini.
Diskusi semacam ini tutur Hendi, penting. Sebab berbicara tidak hanya berhenti pada pembacaan masa lalu, tetapi juga menyoroti pentingnya membangun masa depan industri kopi lebih berkeadilan.
"Sebab sejarah harus menjadi pelajaran agar praktik eksploitasi tidak terulang,” tutur Hendi.
Dalam diskusi yang juga dimeriahkan oleh penampilan tari dari anak-anak petani Sarongge ini, Hendi berkeyakinan karya novel sejarah seperti Cinta Kopi dan Kekuasaan, dapat menjadi bagian dari ekosistem pengetahuan lebih luas.
Sehingga, dia menekankan pentingnya kolaborasi antara sastra, sejarah, dan kebijakan publik dalam membangun kesadaran kolektif yang lebih baik.
Editor : Abdul Basir
Artikel Terkait
