“Jadi suhu panas dari PLTU itu sangat terasa, panas sekali. Itu kebantu kalau lagi musim hujan. Tapi kalau sudah tidak hujan satu atau dua hari, panasnya luar biasa,” ujarnya.
Agus menyebut, kondisi panas yang ekstrem membuat warga kesulitan beraktivitas di dalam rumah. Bahkan, untuk sekadar merasakan udara sejuk, warga harus keluar ke pinggir jalan.
Tak hanya itu, keberadaan dua PLTU dengan jarak yang sangat dekat sekitar 400 hingga 500 meter membuat dampak semakin terasa. Warga yang tinggal di tengah-tengah lokasi pembangkit mengaku belum pernah mendapatkan solusi konkret sejak PLTU pertama beroperasi pada 2012.
“Dari dulu juga sudah banyak keluhan, tapi tidak ada penanganan atau solusi dari pihak PLTU,” katanya.
Dampak lain juga dirasakan oleh nelayan. Agus menuturkan, pembangunan infrastruktur seperti jeti membuat aktivitas mencari hasil laut semakin sulit.
“Dulu masih ada yang mencari kerang di sekitar wilayah PLTU, sekarang sudah tidak ada. Warga harus mencari ke desa lain,” ungkapnya.
Perubahan lingkungan pun terlihat nyata. Pantai yang dulunya berpasir kini berubah menjadi berlumpur, sementara debu dari aktivitas pembakaran batu bara kerap terbawa angin ke permukiman warga.
Editor : Agung Bakti Sarasa
Artikel Terkait
