Mereka secara kolektif menegaskan pesan sentral film ini: bahwa fenomena overwork bukan sekadar elemen fiktif dalam sinema, melainkan realitas pahit yang dialami oleh jutaan tenaga kerja di Indonesia secara harian.
"Relatability film ini bagi kalangan pekerja sangat kuat, mulai dari isu kelelahan kronis akibat lembur hingga masalah kurang tidur. Hal ini relevan bagi buruh pabrik maupun karyawan kantor. Saya berharap karya ini mampu menginisiasi dialog mengenai urgensi lingkungan kerja yang lebih sehat," ungkap Rachel Amanda.
Lutesha turut menggarisbawahi aspek tragis dari kondisi tersebut.
“Sangat memprihatinkan melihat bagaimana keterbatasan pilihan sering kali memaksa seseorang terperangkap dalam pekerjaan yang mengancam kesehatan. Situasi itulah yang sangat dekat dengan keseharian masyarakat kita,” ungkapnya.
Iqbaal Ramadhan, yang mengemban peran ganda sebagai aktor sekaligus produser eksekutif, menekankan bahwa Monster Pabrik Rambut menawarkan sensasi horor retro yang mencekam tanpa harus bergantung pada formula jumpscare.
“Sumber ketakutan dalam film ini berakar pada atmosfer pabrik dan kehadiran monster di dalam ceritanya. Penggunaan practical effect untuk menghidupkan sosok monster memberikan pengalaman unik bagi generasi Z seperti saya, karena prosesnya mengingatkan pada estetika produksi film horor era 80-an dan 90-an,” kata Iqbaal Ramadhan.
Ia menambahkan bahwa pendekatan yang realistis ini akan membawa penonton seolah benar-benar terperangkap dalam situasi di pabrik tersebut tanpa gangguan setan atau kejutan yang berlebihan.
Monster Pabrik Rambut menyoroti perjuangan Putri (Rachel Amanda) dan Ida (Lutesha) di pabrik rambut PT Raga Abadi, tempat mereka berusaha menyingkap misteri kematian ibu mereka di tengah eksploitasi kerja yang ekstrem.
Saksikan Monster Pabrik Rambut yang akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 4 Juni 2026.
Editor : Rizal Fadillah
