BANDUNG BARAT,iNews BandungRaya.id - Biogas berbahan baku kotoran hewan (kohe) sapi di Kampung Babakan Ampera, Desa Jayagiri, Lembang, bisa jadi percontohan.
Pasalnya biogas tersebut mampu beroperasi dan bisa menghasilkan gas untuk bahan baku memasak sebagai pengganti gas LPG bagi masyarakat sekitar. Selain itu juga bisa menghasilkan pupuk cair yang menyuburkan tanaman.
"Biogas di sini bisa sebagai contoh unggulan pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi desa yang ramah lingkungan," kata Direktur Kemandirian Sosial dan Ekonomi, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas RI, Dinar Dana Kharisma saat bersama tim dari ITB melakukan peninjauan ke lokasi biogas, Sabtu (20/6/2026).
Menurutnya, inovasi pemanfaatan limbah peternakan menjadi energi biogas dan pupuk organik bisa mengurangi permasalahan kohe sapi selama ini. Dampak lainnya bisa membangun kemandirian ekonomi warga secara berkelanjutan.
Sinergitas antara Pesantren Alam Desa Jayagiri, Forum Penyelamat Lingkungan Hidup (FPLH), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan pemerintah desa dalam mengelola sumber daya alam, menjadi modal utama untuk merumuskan kebijakan yang bisa diterapkan di lokasi lain.
Hal ini sebagai upaya memperkuat program pembangunan yang tidak hanya mengandalkan bantuan sosial. Sekaligus menjawab tantangan ketimpangan kesejahteraan yang masih terlihat nyata antara wilayah utara dan selatan Jawa Barat.
"Program seperti ini layak dikembangkan di daerah prioritas dengan tingkat kemiskinan lebih tinggi, salah satunya beberapa wilayah di Jawa Barat," sebutnya.
Program Bappenas ke depan bukan hanya sekadar mengentaskan kemiskinan, melainkan menutup kesenjangan pembangunan antarwilayah, serta meningkatkan kualitas hasil pertanian dan peternakan agar memiliki nilai jual tinggi melalui penguatan kelembagaan usaha kolektif.
"Salah satu keunggulan model biogas ini adalah pemanfaatan kotoran sapi menjadi sumber energi terbarukan bernilai ekonomi ganda. Warga di sini tidak perlu beli gas atau minyak tanah, ke depannya akan didorong supaya ada nilai ekonomi lebih misalnya untuk memproduksi industri kecil, pengolahan makanan, dan yang lainnya," ucapnya.
Pada kesempatan yang sama Prof. Dr. Ir. Lienda A Handoyo dari Prodi Teknik Kimia ITB menjelaskan, unit biogas yang telah terbangun sebenarnya mampu mengolah limbah dari 50 hingga 60 ekor sapi. Namun saat ini baru beroperasi setengah kapasitas akibat keterbatasan bahan baku kohe sapi.
"Ini kan kapasitasnya masih terbatas sehingga baru melayani kebutuhan rumah tangga di sekitarnya saja. Perlu pengembangan lebih lanjut seperti perluasan jaringan pipa dan peningkatan pasokan limbah untuk coverage yang lebih luas," tuturnya.
Menurutnya limbah kohe sapi tidak hanya dimanfaatkan untuk biogas, tapi juga untuk alternatif pupuk organik atau pakan budidaya magot yang kaya nutrisi.
Kelebihannya bisa menambah unsur hara di dalam tanah lebih subur sehingga tanaman pun lebih cepat tumbuh.
"Biogas yang dihasilkan dari teknologi biodigester ini tidak berbau, jadi lingkungan tetap terjaga. Harapan kami teknologi ini bisa direplikasi di daerah lainnya untuk mengurangi persoalan limbah kohe sapi," imbuhnya.
Kepala Desa Jayagiri, Cece Wahyudin menargetkan ingin memperluas jangkauan biogas dari puluhan kepala keluarga (KK) menjadi fasilitas yang melayani hingga 300 KK. Sehingga warga tidak lagi bergantung pada LPG yang harganya terus naik.
Selain itu pemerintah desa juga mengusulkan dukungan perbaikan akses pakan ternak, bibit unggul, dan sanitasi lingkungan, serta mengoptimalkan peran Badan Usaha Milik Desa dan Gabungan Kelompok Tani atau Gapoktan.
"Melalui kolaborasi dengan Bappenas, ITB, dan FPLH Jabar ini, kami berharap semua target itu bisa terealisasi," tandasnya.
Sementara Ketua FPLH Jabar Thio Setiowekti menilai, inovasi biogas berbahan baku kohe sapi menjadi alternatif energi ramah lingkungan yang semestinya dikembangkan oleh pemerintah.
"Teknologi ini bisa mengurangi climate change akibat dari efek rumah kaca," pungkasnya.
Editor : Rizki Maulana
Artikel Terkait
