“Melalui Kabinet Nātūra dengan visi 'Memahami Hakikat, Membangun Profesionalisme', kami tidak hanya ingin berfokus pada dinamika internal organisasi, tetapi juga ingin memastikan kader-kader HMI hadir secara aktif di tengah masyarakat untuk mengawal kebijakan publik dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Kota Bandung," tambahnya.
Arah gerak organisasi ini selaras dengan tantangan terbuka yang disampaikan oleh Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, yang turut hadir memberikan sambutan. Kepala daerah tersebut memaparkan kondisi riil infrastruktur kota, di mana jangkauan layanan air bersih baru menyentuh angka 38 persen.
Tidak hanya itu, tercatat ada sekitar 700.000 kepala keluarga di wilayahnya yang masih membuang limbah domestik langsung ke aliran sungai. Menghadapi situasi tersebut, Farhan secara khusus menantang kalangan intelektual muda untuk aktif menyumbangkan gagasan konstruktif bagi pemkot.
Selain menyoroti isu tata ruang, momentum pelantikan ini turut dimeriahkan dengan peluncuran buku monumental berjudul Diorama HMI Bandung: Tafsir Kultur dan Sejarah karya Maulana Ihsan Asy’ari. Buku tersebut merekam rekam jejak historis HMI Cabang Bandung sebagai cabang perintis di tanah air, menelusuri dialektika intelektual kader sejak era 1950-an hingga masa disrupsi digital saat ini, serta mencatat kiprah penting Korps HMI Wati (Kohati).
Sebagai salah satu cabang historis utama, HMI Cabang Bandung memiliki andil besar dalam perjalanan bangsa. Mulai dari penciptaan lambang resmi organisasi oleh pelukis Ahmad Sadali, perumusan Nilai Dasar Perjuangan (NDP) oleh Endang Saifuddin Anshari, Syakieb Machmud, dan Nurcholish Madjid (Cak Nur), penataan arsitektur Badan Koordinasi (Badko) oleh Achmad Nurhani, hingga melahirkan tokoh nasional sekaligus mantan Ketua Umum PB HMI, mendiang Ferry Mursyidan Baldan.
Editor : Agung Bakti Sarasa
Artikel Terkait
