Farhan menyebut karakteristik Kota Bandung menjadi tantangan tersendiri dalam penerapan tata kelola berbasis data.
Dengan luas wilayah sekitar 170 kilometer persegi dan jumlah penduduk yang mendekati 3 juta jiwa, Bandung memiliki mobilitas penduduk yang tinggi serta dinamika yang terus berkembang di bidang pelayanan publik, kesehatan, pendidikan hingga ekonomi digital.
Karena itu, Farhan menilai pengalaman Seoul dalam membangun kota cerdas penting untuk dipelajari, bukan semata-mata dari kecanggihan teknologi yang digunakan, tetapi dari bagaimana teknologi tersebut mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Smart city pada akhirnya bukan soal seberapa banyak teknologi yang diterapkan atau berapa banyak anggaran yang digunakan untuk membeli sensor dan mengembangkan aplikasi. Yang paling penting adalah bagaimana digitalisasi ini memberikan dampak yang luas bagi masyarakat,” katanya.
Farhan menegaskan, Bandung tidak perlu meniru Seoul Korea Selatan secara utuh. Namun, konsistensi Seoul dalam membangun pemerintahan yang responsif, mengintegrasikan data antarorganisasi pemerintahan, serta melibatkan pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan masyarakat dinilai layak menjadi pembelajaran.
Editor : Abdul Basir
Artikel Terkait
